GBP/USD bergerak stabil sekitar 1.3470 sepanjang sesi Asia setelah data ritel Inggris merespons dengan rebound. Angka ritel untuk Maret naik 0,7% secara bulanan, lebih kuat dari estimasi 0,1%. Secara tahunan, penjualan ritel juga menunjukkan kenaikan, meskipun ada variasi minor dibanding bulan sebelumnya. Data inti penjualan ritel, tidak memperhitungkan otomotif dan bahan bakar, naik 0,2% MoM dan membantu mengurangi tekanan negatif dari data ritel secara keseluruhan.
Di sisi lain, dolar AS tetap mendapat dukungan dari permintaan safe-haven karena ketidakpastian yang berkelanjutan terkait konflik antara AS dan Iran. Ketegangan regional meningkatkan permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman, sehingga menekan pasangan mata uang berisiko seperti GBPUSD. Langkah militer serta respons diplomatik terkait Iran memperlihatkan bagaimana dinamika geopolitik dapat memicu volatilitas di pasar mata uang.
Secara teknikal, pergerakan GBP/USD cenderung berhati-hati karena data ritel menunjukkan dinamika positif di sisi konsumen, namun sentimen pasar lebih banyak ditentukan oleh arah dolar dan risiko global. Jika tekanan safe-haven bertahan, pasangan ini berpotensi turun lebih lanjut. Pelaku pasar juga akan memantau perkembangan kebijakan moneter Inggris sebagai komponen pendukung jangka panjang.
Rilis data ritel Inggris untuk Maret menunjukkan rebound 0,7% MoM, melampaui estimasi 0,1% yang diharapkan pasar. Pada basis tahunan, penjualan ritel naik 1,7%, sedikit di bawah angka bulan sebelumnya. Penjualan inti, yang tidak memasukkan otomotif dan bahan bakar, naik 0,2% MoM, membalikkan revisi penurunan 0,6% sebelumnya.
Secara keseluruhan, data ini menyoroti resilien consumer demand di Inggris, meskipun tekanan harga dan faktor global tetap menimbang. Perbaikan pada sektor ritel berpotensi mendukung laju pertumbuhan domestik, meskipun efeknya terhadap pasar valuta tergantung pada bagaimana investor menilai risiko eksternal.
Para pelaku pasar menilai dampak data terhadap GBP dan prospek kebijakan moneter Bank of England. Meskipun angka-angka ritel terlihat positif, pergerakan GBPUSD akan lebih dipengaruhi oleh arah dolar dan bias risiko global yang sedang berjalan.
Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah telah menjadi penopang bagi dolar sebagai aset aman. Faktor risiko regional menambah permintaan terhadap valuta yang dianggap stabil, terutama saat market menghadapi ketegangan antara negara-negara besar.
Lebanon dilaporkan ingin memperpanjang gencatan senjata dengan Israel selama satu bulan, meski peluangnya masih di atas meja negosiasi dan belum pasti. Komentar dari duta besar Israel menyiratkan bahwa hasil akhir negosiasi belum menjamin kepastian penuh.
Pembahasan mengenai kapal tanker Iran yang dicegat dan ancaman terhadap jalur pasokan di Selat Hormuz memperlihatkan bagaimana eskalasi bisa memukul pasar energi dan memperkuat konteks risiko global. Pasar akan terus memantau langkah-langkah militer dan respons diplomatik yang dapat memicu pergerakan aset safe-haven.