
GBP/USD bergerak relatif stagnan di sekitar 1.3470 pada sesi Asia, mencerminkan minimnya volatilitas baru meskipun berita geopolitik berlanjut. Dolar AS tetap menguat karena ketegangan di Timur Tengah dan potensi gangguan pasokan energi yang menambah tekanan inflasi global. Kondisi ini membuat pasar menimbang arah kebijakan moneter antara BoE dan Fed secara hati-hati.
Faktor geopolitik yang mendukung dolar menjadi pendorong terbesar pergerakan jangka pendek pasangan mata uang utama. Investor menilai seberapa cepat bank sentral dapat menyesuaikan kebijakan ketika inflasi tetap tinggi. Dalam konteks ini, ekspektasi terhadap kecepatan respons kebijakan cenderung lebih relevan daripada ukuran responsnya.
Di balik layar teknikal, dinamika GBPUSD tetap asing terhadap arah jelas, dengan para trader menunggu data ekonomi selanjutnya untuk menggugah arah. Kekuatan dolar asalnya dari sisi safe-haven, sementara faktor domestik di Inggris tetap menjadi jalur pembatas pergerakan pound. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight.
Indikator ISM Manufacturing PMI AS naik menjadi 54 pada Mei 2026, menandai ekspansi manufaktur tercepat sejak Mei 2022. Lonjakan ini memperkuat gambaran ekonomi AS yang kuat dan menyokong argument bahwa Federal Reserve akan mempertahankan sikap hawkish lebih lama. Selain itu, data tenaga kerja April menunjukkan JOLTS 7.6118 juta membantu menambah tekanan pada inflasi.
Kondisi tersebut membuat pasar menilai suku bunga AS tetap tinggi untuk jangka lebih lama, memperkuat peluang Dolar AS menguat lebih lanjut terhadap pasangan utama. Pasar juga menunggu laporan Nonfarm Payrolls yang dirilis Jumat untuk konfirmasi arah kebijakan. Dalam skenario ini GBPUSD diperkirakan mengalami tekanan minimal jika data NFP menunjukkan kekuatan serupa.
Secara umum, faktor data AS memberikan dukungan bagi dolar, namun volatilitas pasar tetap tinggi karena investor menyeimbangkan bagaimana inflasi akan berkembang. Perkembangan ini membuat peta risiko pada pasangan GBPUSD cenderung berfluktuasi dalam kisaran sempit.
Ketegangan regional menyebabkan kekhawatiran supply energy di kawasan penting, terutama jika penutupan sementara Selat Hormuz memperberat harga minyak. Dampak terhadap inflasi global bisa mendorong sikap yang lebih hawkish di bank sentral maju. Skenario ini menambah tekanan pada GBPUSD untuk menjaga jarak dari gerak besar.
Cakupan kejadian militer dan intersepsi serangan Iran terhadap Kuwait dan Bahrain memperlihatkan dinamika risiko yang belum jelas. Sementara itu, aksi defensif AS di Qeshm Island dan respons sekutu meningkatkan volatilitas pasar forex dalam periode mendatang.
Keputusan BoE yang tegas terhadap inflasi dan harapan publik akan mempengaruhi arah pound. Jika kebijakan dianggap cukup cepat menekan inflasi, GBPUSD bisa mempertahankan tren positif meski masih di kisaran. Namun, tanpa klarifikasi, pergerakan pasangan dapat terjebak pada kisaran narasi yang ada.