Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight (Cetro). GBP/USD saat ini berada di wilayah negatif karena dolar AS menguat sebagai respons terhadap kekhawatiran safe-haven terkait eskalasi AS–Iran. Pada pembukaan sesi Asia tadi, pasangan tersebut dibuka dengan gap down dan diperdagangkan sekitar 1.3500, mencerminkan posisi risk-off di pasar. Pergerakan ini juga dipicu persepsi bahwa dolar menjadi instrumen perlindungan nilai di tengah ketidakpastian geopolitik.
Analisis geopolitik menunjukkan respons tegas dari Iran terhadap blokade pelabuhan AS. Juru bicara Kemenlu Iran, Esmail Baghaei, menyatakan bahwa blokade itu adalah agresi yang melanggar gencatan senjata dan dapat dianggap sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Narasi semacam ini meningkatkan volatilitas pasar dan menambah tekanan pada pasangan mata uang yang sensitif terhadap risiko seperti GBP/USD.
Di sisi lain, dinamika di Hormuz berdampak pada harga minyak yang lebih tinggi, meningkatkan kekhawatiran inflasi dan membangkitkan ekspektasi kenaikan suku bunga BoE. Hasilnya, pergerakan GBP turut tertekan meski beberapa faktor teknikal menahan penurunan lebih lanjut. Analis juga menyoroti komentar pejabat BoE yang menegaskan adanya risiko stres pasar yang bisa muncul jika ketegangan berlanjut.
Greenback menguat terhadap sebagian besar pasangan mata uang utama karena pasar memperkirakan jalur kebijakan Fed yang tetap “higher-for-longer”, didorong oleh inflasi yang masih tinggi dan dampak geopolitik. Ketidakpastian global cenderung memicu alokasi dana ke dolar sebagai asset safe-haven, sehingga tekanan pada GBPUSD tetap relevan meskipun faktor lain mencoba menahan penurunan.
Tren data ekonomi AS menjadi kunci untuk arah dolar setelahnya. Data ritel AS yang akan dirilis pada Selasa diperkirakan naik sekitar 1.3% MoM pada Maret, melanjutkan kenaikan 0.6% pada Februari. Jika realisasi lebih kuat dari ekspektasi, dorongan untuk dolar bisa bertahan atau menguat lebih lanjut, berpotensi memperburuk posisi GBP/USD.
Sementara itu, pihak pasar juga mengamati apakah kilasan ketegangan Hormuz akan terus menekan inflasi melalui harga minyak. Hal ini bisa memberi ruang bagi BoE untuk menimbang langkah lebih lanjut, meski lingkungan dolar yang kuat tetap menjadi beban bagi GBP dalam jangka pendek.
BoE Deputy Governor Sarah Breeden menekankan bahwa konflik di wilayah Timur Tengah meningkatkan risiko stres pasar yang berpotensi saling tumpang tindih dengan krisis masa lalu. Ketidakpastian geopolitik menambah volatilitas di pasar keuangan, sehingga pelaku pasar berhati-hati dalam menakar arah pasangan seperti GBPUSD.
Analisis fundamental dan dinamika harga menunjukkan sinyal jual untuk pasangan GBPUSD dengan level pembukaan sekitar 1.3500. Target keuntungan (tp) diposisikan di 1.3425 dan stop loss (sl) di 1.3550, memberi rasio risiko/imbalan sekitar 1:1.5. Gunakan pertimbangan ukuran posisi yang tepat mengingat volatilitas yang ada.
Manajemen risiko tetap penting: pertahankan ukuran posisi yang wajar, gunakan trailing stop jika volatilitas meningkat, dan terus merujuk pada rilis berita terkait ketegangan geopolitik serta data ekonomi untuk menjaga keputusan perdagangan tetap terinformasi. Rekapitulasi ini menekankan bahwa sinyal saat ini didasarkan pada kombinasi faktor fundamental dan dinamika pasar yang relevan untuk GBPUSD.