GBP/USD tertekan pasca pernyataan Presiden AS Donald Trump yang dipandang menunda upaya deeskalasi dan memperkuat greenback sebagai aset perlindungan. Pergantian sentimen ini mendorong investor untuk menjauhi risiko dan mencari keamanan di dolar, sehingga pasangan mata uang utama ini cenderung melemah. Level tertinggi mingguan sekitar 1.3345 menjadi acuan, sebelum penutupan sesi Asia menandai pergerakan turun ke area 1.32-an.
Rilis berita menunjukkan bahwa komentar Trump juga menimbulkan ketidakpastian soal negosiasi Iran dan rentang waktu 2–3 minggu yang dia sampaikan. Sementara Tehran membantah klaim tersebut, narasi geopolitik tetap mendominasi pasar. Ada laporan bahwa UAE mendorong aksi militer untuk membuka kembali Selat Hormuz, menambah risiko gangguan pasokan energi global.
Dalam analisis publik, pergerakan ini menekankan peran dolar sebagai pelindung nilai dan meningkatkan volatilitas pasangan GBPUSD. Menurut laporan dari Cetro Trading Insight, dinamika makro dan geopolitik saat ini lebih banyak menjadi pendorong teknikal daripada sinyal pembalikan jangka pendek, sehingga prospek turun lebih mungkin jika sentimen risk-off bertahan.
Pergerakan harga minyak mentah yang rebound meningkatkan kekhawatiran inflasi global dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Ketika biaya energi melonjak, otoritas moneter cenderung menimbang respons kebijakan yang mungkin menguatkan dolar lebih lanjut. Dampaknya pada GBPUSD adalah tekanan tambahan karena ekonomi Inggris sangat sensitif terhadap fluktuasi energi.
Hubungan antara minyak, inflasi, dan kebijakan membuat BOE juga menilai risiko lebih tinggi terhadap laju mata uangnya. Meski ada sinyal bisa ada pengetatan lebih awal, kondisi global tetap menjadi faktor penentu utama. Investor mengawasi apakah langkah bank sentral Inggris bisa mengatasi tekanan biaya hidup tanpa memperburuk pertumbuhan.
Secara umum, aliran risk-off yang dipicu oleh gejolak harga minyak dan sentimen risiko global menjaga USD lebih kuat, sehingga GBPUSD cenderung melemah lebih lanjut jika pasar terus menilai risiko ekonomi global sebagai dominan. Pelaku pasar juga memantau dinamika minyak untuk membentuk ekspektasi arah berikutnya.
Ketegangan di Timur Tengah, termasuk ancaman ukuran terhadap infrastruktur energi Iran dan dinamika di Hormuz, meningkatkan volatilitas pasar komoditas dan mata uang. Ketidakpastian itu menambah beban pada GBP karena Inggris sangat tergantung pada rencana diversifikasi energi dan biaya energi domestik.
Di sisi kebijakan, BoE menunjukkan sinyal hawkish mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga lebih awal, setidaknya pada April, ketika inflasi tetap tinggi. Proyeksi ini menambah tekanan pada GBP dan memperkaya dinamika GBPUSD, meskipun faktor eksternal tetap menjadi penentu utama pergerakan mata uang.
Bagi trader, meskipun arah jangka pendek terlihat lebih condong ke sisi negatif untuk GBPUSD, tidak ada level entry yang spesifik dalam laporan ini. Oleh karena itu, rekomendasi sinyal trading diserahkan kepada pembaca, dengan risiko geopolitik dan volatilitas minyak yang tetap menjadi elemen penting. Selengkapnya dapat diikuti melalui Cetro Trading Insight.