Di sesi terbaru, data inflasi AS menunjukkan lonjakan pada PPI inti Januari sebesar 3.6% YoY, melebihi estimasi pasar. Angka ini menambah ketidakpastian bagi kebijakan moneter tertentu dan meningkatkan probabilitas bahwa Federal Reserve akan menahan langkah pelonggaran lebih lanjut untuk saat ini.
Headline PPI secara keseluruhan turun menjadi 2.9% YoY, namun tetap di atas ekspektasi. Hal ini membuat pasar menilai bahwa perlambatan suku bunga mungkin tertunda, dengan proyeksi easing sekitar 56 basis poin hingga akhir tahun.
Ketegangan inflasi ini turut memperkuat dolar secara umum, sehingga pergerakan GBPUSD cenderung tertekan saat para pelaku pasar menilai risiko terhadap mata uang AS lebih tinggi di tengah data inflasi baru.
Tensi di Timur Tengah membebani sentimen risiko dan meningkatkan permintaan terhadap aset safe-haven, yang secara tradisional mendongkrak dolar AS terhadap banyak pasangan mata uang utama.
Di dalam negeri, dinamika politik terkait pemimpin oposisi dan kebijakan BoE memicu volatilitas GBP. Pasar mengamati peluang pemangkasan 25 bps pada Maret meskipun ada pernyataan hawkish dari beberapa pejabat BoE.
Rencana rilis data pekanan dan pidato pejabat bank sentral menjadi fokus utama bagi investor untuk memperkirakan arah GBPUSD ke depan.
Harga GBPUSD saat ini berada di sekitar 1.3470, terjebak di antara dukungan naik dari 1.3035 dan resistance menurun di sekitar 1.3869. Bias jangka pendek netral dengan kecenderungan sedikit bearish jika harga menembus resistance utama.
Resistensi utama berada di wilayah 1.3530–1.3560; penutupan harian di atas zona tersebut membuka jalur menuju 1.3630 dan 1.3680. Di sisi bawah, support terdekat sekitar 1.3450, diikuti 1.3400; jika tembus 1.3360, risiko pullback lebih dalam menuju 1.3300 dapat meningkat.
Analisis teknikal ini disusun dengan bantuan alat AI untuk meningkatkan kedalaman data dan kecepatan pembacaan pasar.