GBPJPY berhasil menanjak seiring dirilisnya CPI Tokyo yang lebih lemah dari ekspektasi. Data inflasi yang lebih rendah menambah sentimen bahwa Bank of Japan bakal bersabar sebelum menambah kebijakan. Pergerakan ini juga menandai perubahan dinamika risiko ketika pelaku pasar menilai toleransi BoJ terhadap kenaikan suku bunga.
CPI Tokyo Januari naik 1,5% secara tahunan, turun dari 2,0% pada Desember. Core CPI, yang tidak termasuk makanan segar, turun menjadi 2,0% YoY, lebih rendah dari perkiraan 2,3%. Kondisi ini memperkuat dugaan bahwa tekanan inflasi di Jepang mereda dan BoJ bisa melanjutkan jalurnya dengan lebih sabar.
Seiring data dirilis, pasar swap memangkas probabilitas kenaikan suku bunga BoJ pada Maret menjadi sekitar 13%, sambil memperkirakan peluang kenaikan di April sekitar 60%. BHH menekankan skenario dasar bahwa kenaikan berikutnya terjadi pada pertemuan 28 April. Dengan latar belakang data tenaga kerja Jepang, perhatian beralih ke sisa dinamika kebijakan.
Analisa dari BHH menunjukkan bahwa BoJ masih bisa menahan diri untuk melanjutkan siklus kenaikan suku bunga. Pasar swap mencerminkan probabilitas kenaikan pada Maret yang menurun, sementara peluang pada musim gugur tetap ada. Skenario utama tetap mengarah pada peningkatan pada pertemuan 28 April jika data moneter Jepang konsisten.
Rilis data tenaga kerja dan konsumsi Jepang sebelumnya membentuk gambaran ekonomi yang berbeda, dengan tingkat pengangguran stabil di 2,6% pada Desember. Penjualan ritel YoY melonjak 2,0% tetapi melambat tajam dari bulan sebelumnya, sedangkan bulan Desember menunjukkan penurunan bulanan sebesar 2,0% setelah adanya kenaikan November. Kondisi ini menambah variasi sinyal ke arah kebijakan BoJ.
Di sisi lain, fokus investor beralih ke keputusan BoE pada 5 Februari, karena Inggris masih menghadapi inflasi yang tinggi. Dengan tekanan harga konsumen di UK, ekspektasi terhadap kebijakan moneter BoE tetap berhati-hati. Pergeseran kebijakan BoE dapat memengaruhi aliran modal dan arah pasangan mata uang GBPJPY.
Investors menantikan keputusan BoE pada 5 Februari, dengan inflasi Inggris yang bertahan di atas target 2%. Data IHK utama berada di 3,4% YoY, sementara inti sekitar 3,2%, menunjukkan tekanan harga tetap tinggi. Pasar umumnya memperkirakan BoE akan mempertahankan suku bunga di 3,75% untuk menahan risiko pertumbuhan yang melambat.
Perlambatan inflasi Jepang membantu memperkuat sentimen terhadap GBP terhadap JPY, meskipun dinamika global tetap penuh bias risiko. Kebijakan moneter Inggris yang lebih ketat dibanding Jepang menambah perbedaan suku bunga antara kedua negara, meningkatkan daya dorong bagi pasangan GBPJPY ke level lebih tinggi. Namun investor perlu memperhitungkan sinyal teknikal dan potensi koreksi jika data ekonomi UK atau global berubah.
Rencana perdagangan dengan risiko terdefinisi mencakup level open di 212.16, target keuntungan sekitar 213.90 dan stop loss dekat 211.00. Rasio reward risk sekitar 1,5:1 telah terpenuhi berdasarkan angka tersebut, asalkan pergerakan harga bergerak sesuai arah sinyal. Di saat menjelang rilis BoE, volatilitas pasar memerlukan manajemen posisi yang cermat dan pemantauan rilis data berikutnya.