GBPJPY berada di jalur bullish meski para pelaku pasar menunggu data inflasi Inggris untuk mengonfirmasi langkah berikutnya. Ketegangan di Timur Tengah menekan Yen Jepang, sehingga mendorong cross GBPJPY lebih kuat. Dukungan dari ekspektasi BoE untuk menaikkan suku bunga menambah tenaga bagi pound dalam perdagangan mata uang ini.
Secara teknikal, harga berhasil menembus area resisten sekitar 213.10–213.15 dan keluar dari pola konsolidasi. Breakout ini menandai kelanjutan tren kenaikan jangka menengah. Di atasnya, sinyal momentum tetap positif karena harga masih berada di atas 100-day EMA.
Indikator momentum juga menguat; RSI berada di wilayah positif sekitar 64, sementara MACD berada di teritori positif dan mendukung pergerakan ke atas. Hal ini menunjukkan tekanan beli yang cukup kuat meskipun terjadi koreksi singkat.
Faktor fundamental memberi dukungan pada bias naik GBPJPY. Data CPI Inggris yang lebih kuat dari ekspektasi meningkatkan peluang BoE melakukan kenaikan 25 basis poin pada akhir 2026, sehingga mendongkrak daya tarik sterling. Sementara Yen masih dibebani kekhawatiran ekonomi regional dan ekspektasi BoJ untuk mempertahankan kebijakan rendah, membuat cross ini tetap berada di jalur positif.
Skenario teknikal menunjukkan bahwa jika harga berhasil menembus 216.00 tanpa hambatan besar, peluang untuk melaju menuju area resistance berikutnya cukup tinggi. Namun jika terjadi koreksi, level sekitar 210.60 dan 100-day EMA bisa menjadi wilayah dip-buying bagi mereka yang melihat peluang pembalikan dalam tren naik.
Rencana perdagangan yang disarankan adalah membeli GBPJPY jika harga menembus 216.00 dengan target sekitar 216.80 dan potensi lebih lanjut. Stop loss ditempatkan di 214.80 untuk menjaga risiko, dengan rasio risiko/imbalan minimal 1:1.5. Struktur ini sejalan dengan dinamika pasar saat ini dan pendekatan manajemen risiko yang disiplin.