Ketegangan geopolitik yang rapuh dan eskalasi regional terus menjadi fokus utama pasar. Perkembangan di Timur Tengah menambah tingkat risiko dan memicu volatilitas pada mata uang utama. Pada saat yang sama, para pelaku pasar memperhatikan jalur kebijakan moneter utama di AS dan Inggris yang dapat membentuk arah pasangan GBPUSD dalam beberapa sesi ke depan.
Data inflasi di AS, khususnya Personal Consumption Expenditures PCE, menunjukkan tekanan tetap dengan angka bulanan yang cukup kuat. Pasar tenaga kerja Amerika juga menunjukkan resilience, sehingga para pedagang menilai bagaimana Bank Sentral AS (Fed) dan Bank of England (BoE) akan menimbang langkah selanjutnya. Ekspektasi pemotongan suku bunga Fed yang belum berubah menambah dinamika risiko di mata uang dolar dan pound.
Di sisi lain, BoE mendapat dorongan dari prediksi kenaikan suku bunga di beberapa kalkulasi pasar, membuat pound tetap ia di posisi relatif kuat. Sementara itu, aliran berita geopolitik tetap menjadi sumber risiko yang bisa menguji dayatahan pasangan mata uang ini di level 1.34 hingga kisaran yang lebih tinggi.
Secara teknikal, GBPUSD diperdagangkan sekitar 1.3441 ketika sesi ini ditulis, dengan bias bearish ringan karena harga berada di bawah rangka Moving Average Triple. Klaster moving averages memberikan hambatan yang membuat upmove cenderung terbatas dalam jangka pendek. Banyak pelaku pasar menilai bahwa pergerakan selanjutnya akan bergantung pada bagaimana harga menutup di atas atau di bawah area MA, yang berpotensi menentukan arah jangka pendek.
Area resistance utama berada di sekitar 1.3439, dan pergerakan yang perlu ditempuh adalah menembus level tersebut untuk menghapus batasan teknikal. Sementara itu, jejak downtrend sebelumnya yang berada di sekitar 1.3137 kini berada di bawah kurs spot, menunjukkan bahwa kerangka trend menahan sisi bawah meskipun upmove terlihat terhenti. Penetapan level ini memberikan konteks bagi trader untuk menilai peluang follow-through dalam beberapa sesi berikutnya.
Di sisi bawah, support awal diidentifikasi dari wilayah downtrend yang telah direbut sekitar 1.3137, di mana pelanggaran ke bawah akan membuka jalur bagi kerugian lebih dalam pada kerangka bearish yang lebih luas. Pergerakan harga juga dapat bergantung pada dinamika dolar AS dan aset aset risiko lainnya, karena volatilitas geopolitik bisa mengubah pola teknikal secara singkat. Secara keseluruhan, pola harga menunjukkan bahwa tren jangka pendek tetap rentan terhadap kembali tes area bawah jika resistensi gagal ditembus.
Investors tetap memperhatikan laporan inflasi konsumen AS untuk bulan Maret, terutama CPI headline dan core CPI, karena data ini berpotensi mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter. Lonjakan pada angka headline bisa memperkuat tekanan pada dolar AS dan menggeser fokus dari kebijakan BoE ke arah pergerakan pasar global. Namun inti CPI diperkirakan tetap stabil, sehingga dampaknya pada GBPUSD bisa terbatas jika kejutan tidak terjadi.
Di Inggris, BoE diperkirakan akan menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya menurut beberapa survey pasar, meski ketegangan geopolitik global tetap menjadi faktor risiko. Jika ekspektasi kenaikan suku bunga terealisasi, Pound bisa mendapat dukungan teknikal, namun reaksi tergantung bagaimana data inflasi AS dan pandangan pasar terhadap risiko global. Secara teknis, bias cenderung menurun selama level resistance tidak ditembus secara konsisten.
Rencana perdagangan menekankan manajemen risiko yang ketat dan konfirmasi teknikal sebelum mengambil posisi. Trader disarankan untuk memantau perkembangan DXY, perubahan pada CPI AS, dan komentar kebijakan BoE sebagai sinyal masuk atau keluar. Sisi risiko memiliki bobot signifikan mengingat dinamika geopolitik, sehingga strategi perlu disesuaikan secara berkala.