GBP/USD mengalami pelemahan seiring menguatnya dolar AS. Faktor risiko global meningkat karena ketegangan geopolitik di kawasan berpengaruh pada aliran modal ke aset aman. Pasar memantau perkembangan terbaru sejak pernyataan Presiden AS terkait negosiasi Iran dan tenggat Hormuz.
Analis melihat bahwa pergeseran sentimen risiko memicu permintaan terhadap dolar sebagai pelindung nilai. Sementara itu, GBP menghadapi tekanan akibat dinamika kebijakan moneter di Inggris dan biaya energi yang tinggi. Pergerakan kurs berada mendekati level sekitar 1.3220 pada sesi Asia Selasa.
Pelaku pasar menilai potensi langkah lanjutan Trump, sambil menunggu rincian proposal lebih lanjut. Selain itu, investor mempertimbangkan bagaimana respons pasar obligasi dan saham terhadap eskalasi berita. Ketidakpastian berita menambah volatilitas jangka pendek dan menentukan arah jangka pendek pasangan mata uang utama ini.
Pembuat kebijakan BoE beralih dari sikap mendukung pemangkasan menuju menahan suku bunga karena lonjakan biaya energi akibat konflik di Timur Tengah. Langkah ini menandai penilaian ulang risiko inflasi yang bisa melambung di kisaran 3% hingga 3,5% dalam beberapa kuartal mendatang. Pasar menafsirkan perubahan ini sebagai pengaruh positif pada mata uang Sterling jika tekanan harga stabil.
Anggota BoE, seperti Sarah Breeden dan Swati Dhingra, menekankan perlunya menahan ladang kebijakan sambil mengawasi data harga konsumen. Kenaikan tekanan harga energi berpotensi menambah beban pada konsumen dan perusahaan, sehingga mempengaruhi ekspektasi pelaku pasar terhadap jalur kebijakan bank sentral Inggris. Pernyataan mereka menegaskan fokus pada data inflasi inti dan dinamika upah. Pasar menilai risiko bahwa sikap hawkish bisa berubah jika angka inflasi lebih lunak.
Investors menimbang bahwa ketahanan ekonomi Inggris serta arah inflasi akan menentukan arah GBPUSD. Pelaku pasar juga memperhatikan prospek perdagangan luar negeri dan dinamika suku bunga jangka panjang. Semua faktor tersebut membentuk pandangan umum terhadap peluang pergerakan mata uang.
Institute for Supply Management (ISM) melaporkan bahwa PMI layanan AS turun menjadi 54,0 pada Maret, turun dari 56,1 di Februari. Data ini berada di wilayah ekspansi, namun momentum sektor jasa terlihat melambat. Angka tersebut sedikit di bawah ekspektasi analis sebesar 55,0.
Faktor gejolak geopolitik menambah likuiditas di pasar dan memperkuat USD saat risk appetite turun. Meski demikian, rilis data jasa tetap mengindikasikan aktivitas ekonomi yang cukup solid dan menjaga estimasi proyeksi kebijakan moneter Federal Reserve. Investor tetap mencermati bagaimana bias kebijakan Federal Reserve akan berubah jika data lebih lemah atau kuat.
Bagi pelaku trading, pergerakan GBPUSD tetap sensitif terhadap berita global. Trader disarankan memperhatikan indikator teknikal dan level kunci untuk manajemen risiko. Dengan dinamika saat ini, potensi peluang jual masih relevan jika tekanan risiko tetap ada.