GoTo Gojek Tokopedia: Regulasi Komisi 8% untuk GoRide Bisa Jadi Peluang Buy, Analisis Cetro Trading Insight

GoTo Gojek Tokopedia: Regulasi Komisi 8% untuk GoRide Bisa Jadi Peluang Buy, Analisis Cetro Trading Insight

Signal G/OTOBUY
Open50.000
TP78.000
SL45.000
trading sekarang

Regulasi pembatasan komisi layanan transportasi daring sebesar 8 persen menjadi sorotan utama pasar. Banyak investor menilai risiko ini bisa lebih ringan dari kekhawatiran awal jika pembatasan hanya diterapkan pada segmen roda dua, sehingga dampaknya tidak mengguncang seluruh lini bisnis. Cetro Trading Insight menilai bahwa fokus regulasi pada GoRide memberi ruang bagi perusahaan untuk menata biaya operasional tanpa menghapus potensi pertumbuhan di segmen lain.

GoRide akan menerapkan komisi 8 persen mulai 1 Juli 2026, turun dari rencana awal 20 persen. Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto pada 1 Mei 2026 untuk meningkatkan kesejahteraan pengemudi daring sambil menunggu diterbitkannya Perpres nomor 27 tahun 2026. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai cakupan dan durasi dampaknya terhadap ekosistem mobilitas GoTo.

Analis UOB Kay Hian menyatakan bahwa skema komisi ini sejauh ini hanya berlaku untuk layanan roda dua (GoRide) dan belum mencakup e-hailing roda empat maupun layanan seperti GoFood. Mereka juga menyoroti kemungkinan perluasan ke segmen lain di masa mendatang jika arah regulasi berubah. Dengan kata lain, volatilitas regulasi tetap menjadi faktor kunci bagi pergerakan harga GoTo.

Analisis UOB Kay Hian menunjukkan bahwa kontribusi pendapatan dari layanan roda dua sekitar 7 persen dari total pendapatan GoTo, sementara segmen mobilitas secara keseluruhan (roda dua dan roda empat) sekitar 14 persen. Layanan berdasarkan permintaan atau on-demand service (ODS) menyumbang sekitar 62 persen pendapatan dengan pengiriman sebagai kontributor terbesar.

Jika pembatasan komisi hanya berlaku untuk e-hailing roda dua, dampaknya terhadap kinerja perusahaan diperkirakan relatif ringan. Namun, jika aturan tersebut meluas ke seluruh segmen mobilitas dan pengiriman makanan, dampaknya bisa jauh lebih besar terhadap pendapatan bersih GoTo. Dalam skenario konservatif, model UOB memperkirakan pendapatan bersih turun sekitar 3 persen pada 2026 dan 7 persen pada 2027 jika fokusnya hanya roda dua.

GoTo masih memiliki sejumlah strategi untuk mengurangi tekanan pada profitabilitas, termasuk mengurangi insentif di segmen ODS, memperkuat skala fintech, menaikkan biaya e-commerce, memperkuat wilayah dengan permintaan tinggi, dan melakukan optimisasi biaya serta pendapatan. Tekanan operasional juga diimbangi oleh kemampuan manajemen mengelola risiko berbasis data yang dianggap kritis bagi kelangsungan profitabilitas.

Potensi Pergerakan Harga, Rekomendasi, dan Strategi Masa Depan

Di sisi operasional, kinerja GoTo menghadapi tekanan pada kuartal II-2026 akibat pelemahan ekonomi, harga minyak tinggi, dan pelemahan nilai tukar rupiah. Laba bersih kuartalan pertama kali tercapai di Q1-2026, namun harga saham sempat menyentuh Rp50 per lembar dengan likuiditas sangat tipis, sehingga MSCI menunda perubahan terkait jumlah saham beredar dan faktor pembatasan lainnya.

Pemegang saham setuju dengan program pembelian kembali saham (buyback) senilai Rp3,5 triliun untuk periode Juni 2026 hingga Juni 2027, didukung posisi kas bersih perusahaan sekitar Rp21,8 triliun. Meski buyback belum berjalan karena tekanan jual pasar, langkah ini menambah dukungan likuiditas dan bisa menjadi katalis positif bagi pergerakan harga di masa mendatang.

UOB Kay Hian mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga berbasis sum-of-the-parts (SOTP) sekitar Rp78 per saham. Kejelasan regulasi mengenai cakupan tarif, peningkatan profitabilitas berkelanjutan, serta pelaksanaan buyback secara bertahap menjadi katalis utama bagi pergerakan GOTO ke depan.

banner footer