
Harga minyak dunia bergeser lebih rendah di pembukaan Asia, menandai kilas balik yang relatif moderat namun tetap memuat risiko. WTI turun 0,5% menjadi 101,45 USD per barel, sementara Brent turun 0,2% di 107,93 USD per barel. Cetro Trading Insight mencatat pergerakan ini dipicu kombinasi sentimen risk-on yang tertahan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Di sisi pasokan, OPEC+ mengumumkan peningkatan produksi sekitar 188.000 barel per hari mulai Juni. Keputusan itu diambil bersama produsen utama seperti Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman. Uni Emirat Arab (UEA) tidak lagi terlibat setelah resmi keluar dari OPEC per 1 Mei.
Meski ada tambahan pasokan, pasar menilai dampaknya terbatas selama Selat Hormuz belum sepenuhnya dibuka kembali. Jalur vital itu praktis tertutup sejak serangan terhadap Iran akhir Februari, menghambat distribusi minyak dari Teluk Persia. Bahkan jika konflik mereda, pemulihan infrastruktur energi di kawasan diperkirakan memerlukan waktu, sehingga risiko pasokan global tetap tinggi dalam jangka pendek.
| Indikator | Nilai | Keterangan |
|---|---|---|
| WTI (nearest) | 101,45 USD/barel | Turun 0,5% |
| Brent | 107,93 USD/barel | Turun 0,2% |
Proposal baru dari Iran kepada Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sempat menyalakan minat risiko pasar. Namun, pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa proposal itu belum memuaskan membuat sentimen pasar kembali tertahan dan ada keraguan atas kelancaran proses damai.
Analyst ANZ Research yang dikutip Dow Jones Newswires menilai bahwa proposal tersebut sempat meningkatkan minat risiko, tetapi komentar Trump menundukkan optimisme di pasar. Pasar juga mencermati bagaimana pernyataan Trump terkait dukungan soal penjagaan kapal-kapal komersial di jalur Hormuz mempengaruhi likuiditas dan volatilitas.
Di sisi lain, investor tetap berhati-hati karena gesekan geopolitik bisa mengganggu pasokan minyak global meskipun ada sinyal pembicaraan. Ketidakpastian ini membuat dinamika harga minyak cenderung volatil meskipun ada beberapa dukungan pasokan. Secara umum, pasar mencoba menilai apakah langkah diplomatik bisa meredam risiko ekonomi global.
Selat Hormuz tetap menjadi kunci volatilitas: jalur pengantaran minyak utama melalui Teluk Persia hampir tertutup sejak serangan akhir Februari, menahan distribusi minyak. Pemulihan infrastruktur energi di kawasan ini diperkirakan memerlukan waktu, sehingga risiko terhadap pasokan global masih tinggi dalam jangka pendek.
Walau OPEC+ menambah produksi sekitar 188.000 bpd, efeknya dinilai simbolis jika diserta oleh gangguan fisik di jalur distribusi utama. Pasar menilai langkah tersebut tidak cukup untuk sepenuhnya mengimbangi gangguan akibat konflik yang berlanjut, sehingga tekanan tetap ada pada harga energi.
Analisis dari Cetro Trading Insight menekankan pentingnya menjaga diversifikasi sumber pasokan dan memantau dinamika geopolitik. Untuk para pelaku pasar, rekomendasinya adalah menguji strategi risiko dengan batasan kerugian yang jelas dan menilai peluang berdasarkan potensi perbaikan infrastruktur energi serta kemungkinan negosiasi diplomatik yang membentuk harga minyak dunia.