Harga Minyak Menguat Dipicu Ketegangan AS–Iran; Brent dan WTI Mencapai Tertinggi Enam Bulan

Harga Minyak Menguat Dipicu Ketegangan AS–Iran; Brent dan WTI Mencapai Tertinggi Enam Bulan

trading sekarang

Harga minyak global melonjak dengan ritme yang tidak bisa dihindari pada perdagangan Kamis, menutup level tertinggi dalam enam bulan. Lonjakan ini dipicu kekhawatiran investor atas eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran, serta ulasan pasar yang dirilis oleh Cetro Trading Insight. Pasar terpental oleh berita yang bisa mengubah keseimbangan pasokan, menambah volatilitas di sepanjang kurva harga.

Brent ditutup naik 1,9% menjadi USD71,66 per barel, sementara WTI AS melonjak 1,9% ke USD66,43 per barel. Penutupan itu menandai tertinggi Brent sejak 31 Juli dan level WTI tertinggi sejak 1 Agustus, menunjukkan rebound yang kuat pasca lonjakan lebih dari 4% pada hari sebelumnya. Para pedagang menilai jalur pasar diwarnai spekulasi risiko geopolitik yang bisa mengubah arus pasokan global.

Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates, menilai harga terdorong oleh ketegangan geopolitik dan kekhawatiran bahwa AS akan menyerang Iran dalam waktu dekat. Ia menambahkan bahwa pasar cenderung reli selama ada ekspektasi terhadap peristiwa mendesak. Latihan militer gabungan Iran dan Rusia di Selat Hormuz menambah kekhawatiran jalur kritis transportasi minyak bisa terdampak.

Kaitan antara isu geopolitik dan penawaran tampak jelas dalam pergerakan harga dua patokan utama minyak. Komentar analis menegaskan bahwa risiko geopolitik memberi dukungan bagi kedua kontrak berjangka meskipun indikator permintaan global masih campuran. Data teknis menunjukkan momentum pembelian tetap impresif menjelang penutupan pasar.

Brent menutup di USD71,66 per barel dan WTI di USD66,43, mencatat level tertinggi sejak pertengahan tahun lalu. Lonjakan tersebut menandai fase rally yang relatif singkat namun signifikan karena kekhawatiran atas konflik regional. Para pelaku pasar terus memantau sinyal-sinyal dari kebijakan produsen minyak utama menyusul rencana peningkatan produksi mulai April.

Menurut analis Phil Flynn dari Price Futures Group, stok mentah AS turun meski sebelumnya ada tekanan akibat badai cuaca. Ia menekankan permintaan konsumen tetap kuat dan mendukung harga meskipun volatilitas geopolitik masih tinggi. Kondisi ini mencerminkan pasar yang didorong oleh dua pilar utama yaitu pasokan yang terpapar geopolitik dan permintaan yang stabil.

Data persediaan minyak mentah AS pekan lalu menunjukkan penarikan sekitar 9 juta barel, menunjukkan utilisasi kilang yang meningkat dan ekspor yang juga melonjak. Angka ini menambah narasi bahwa permintaan global tetap kuat meski ada ketidakpastian geopolitik. Hasilnya, prospek harga menjadi lebih menantang tetapi tetap positif bagi penjual utama di pasar minyak.

Eksport Saudi turun menjadi 6,99 juta barel per hari, level terendah sejak September, menunjukkan adanya penyesuaian produksi di pasar global. Sebagai konteks, laporan menyebut bahwa OPEC dan sekutunya condong melanjutkan peningkatan produksi mulai April. Pergerakan ini menambah dinamika suplai yang bisa menjaga harga tetap rentan terhadap rilis data permintaan.

Secara keseluruhan, prospek jangka menengah minyak bergantung pada dinamika geopolitik, kebijakan produsen, dan permintaan musiman. Analis mengingatkan bahwa volatilitas pasar bisa tetap tinggi jika ketegangan meningkat atau ketika data permintaan global membaik. Investor disarankan memantau rilis data persediaan dan pernyataan kebijakan produsen untuk isyarat arah berikutnya.

broker terbaik indonesia