
Harga logam mulia tertekan karena biaya energi yang melonjak dan sinyal kebijakan bank sentral yang lebih berhati-hati. Kondisi ini menambah tekanan pada harga perak meski tren kenaikan jangka pendek masih terlihat. Investor kini mempertimbangkan potensi pengetatan suku bunga lebih lama dan volatilitas harga energi yang meningkat.
Premis pasar menunjukkan adanya kerapuhan permintaan terhadap aset yang tidak memberikan bunga pada saat ini. Ketakutan inflasi akibat energi menambah beban logam mulia, karena investor menilai imbal hasil yang lebih menarik di aset beryield.
Kondisi makro global tetap ditopang oleh sinyal higher-for-longer pada jalur suku bunga, yang cenderung menekan permintaan terhadap komoditas non-yang menghasilkan pendapatan. Meskipun ada dorongan harga awal, risiko turun lebih lanjut terlihat meningkat jika dolar menguat lebih lanjut.
Data tenaga kerja AS bulan April menunjukkan Nonfarm Payrolls sebesar 115 ribu, melampaui ekspektasi dan menjaga tingkat pengangguran pada 4,3 persen. Data ini memberi arah bagi Federal Reserve untuk melanjutkan kebijakan moneter yang restriktif. Pasar juga menyimak potensi pengetatan lebih lanjut di sektor keuangan dalam beberapa bulan ke depan.
Kekuatan dolar Amerika meningkatkan biaya kepemilikan logam berdenominasi dolar bagi pembeli internasional. Permintaan perak menjadi lebih sensitif terhadap pergerakan kurs, sehingga penurunan harga bisa terjadi saat dolar menguat. Sementara itu, investor memperhatikan sinyal kebijakan moneter global lainnya yang bisa mempengaruhi likuiditas pasar komoditas.
Investors juga menimbang ekspektasi ECB akan kenaikan suku bunga 25 basis poin pada Juni, dengan proyeksi total tiga kenaikan hingga akhir 2026. Ketidakpastian geopolitik menambah volatilitas pada proyeksi harga komoditas, termasuk perak.
Ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah menambah ketidakpastian pasar dan menekan sentimen risiko. Upaya diplomatik terhenti sementara, meningkatkan risiko gangguan pasokan melalui jalur perdagangan utama. Dalam konteks itu, perak cenderung lebih sensitif terhadap berita geopolitik.
Dari sisi safe haven, dolar AS menarik aliran masuk, sehingga permintaan terhadap logam mulia alternatif menyusut. Sinyal ekonomi Amerika yang relatif solid memperkuat keyakinan bahwa kebijakan moneter akan tetap restriktif dalam beberapa kuartal mendatang.
Secara keseluruhan, dinamika dolar dan ketidakpastian geopolitik menekankan pandangan bahwa perak bisa lebih turun dalam jangka pendek. Investor disarankan mengevaluasi risiko likuiditas dan volatilitas harga sambil memantau kebijakan bank sentral serta pergerakan nilai tukar secara menyeluruh.