Benjamin Picton, Senior Market Strategist Rabobank, menilai bahwa perubahan persepsi terkait Selat Hormuz telah menjadi pendorong utama pergerakan tajam Brent. Pergerakan ini dipicu oleh ketidakpastian mengenai apakah ancaman konflik bisa mereda dengan cukup cepat. Akibatnya, investor menilai risiko pasokan minyak secara lebih luas sambil mempertimbangkan dinamika permintaan global.
Ketika pasar menilai risiko geopolitik, Brent turun tajam pada hari Jumat hingga mencapai 90.38 dolar per barel, turun lebih dari 9%. Pada Senin berikutnya, Brent menunjukkan gap naik sekitar 7% karena repricing risiko geopolitik dan berkurangnya peluang untuk gencatan senjata yang berkelanjutan. Pergerakan ini menyoroti bagaimana harga minyak merespons perubahan ekspektasi atas stabilitas regional.
Dalam konteks yang hangat, interpretasi terhadap Selat Hormuz menjadi variabel yang dinamis. Pasar berusaha menilai prospek perdamaian di tengah sisa waktu perpanjangan gencatan. Di saat yang sama, kinerja indeks utama menunjukkan bahwa sentimen pasar bisa menguat meskipun volatilitas energi tetap tinggi, menggambarkan situasi “Schrodinger’s Strait” yang memadukan shock pasokan dengan potensi rebound risiko-risiko ekonomi.
Brent front futures melemah sebesar lebih dari 9% dan ditutup pada level $90.38/bbl, menandai level terendah mingguan sejak perang dimulai. Penurunan ini menyoroti respons pasar terhadap ketidakpastian geopolitik dan dinamika persediaan global yang berubah-ubah. Sinyal ini juga mencerminkan volatilitas yang melekat pada harga minyak mentah utama dunia.
Yang menarik, harga Brent fisik untuk pengiriman segera (dated Brent) juga terdorong turun lebih dari 15% menjadi $98.95/bbl, level terendah sejak 11 Maret. Penurunan ini menunjukkan adanya tekanan pada pasar fisik di tengah volatilitas geopolitik dan kebutuhan pembahasan lebih lanjut mengenai aliran pasokan. Pergerakan harga fisik ini seringkali menjadi indikator awal perubahan tren harga global.
Kemudian, pada pembukaan pagi hari, Brent tampak menguat sekitar 7% dengan imbas risiko geopolitik yang meningkat, sementara mata uang berisiko tinggi banyak yang terjual. Kondisi ini menunjukkan dinamika pasar yang saling bertolak belakang antara komitmen pasokan dan persepsi risiko jangka pendek. Pasar tetap dalam fase penitihan risiko yang bisa berubah cepat tergantung perkembangan di lapangan.
Sektor ekuitas global menunjukkan kekuatan pada saat itu, dengan S&P 500 menguat sekitar 1.2% dan menyentuh level tertinggi sepanjang masa. Sementara itu, Brent front futures dan ekspektasi volatilitas di pasar minyak tetap menunjukkan ketidakpastian. Futures ekuitas AS sendiri menunjukkan beberapa tingkat pelemahan sekitar 0.8% pada pembukaan pasar, menandai pergeseran minor dari kemajuan terbaru di saham.
Menurut Cetro Trading Insight, dinamika ini mencerminkan bagaimana risiko geopolitik bisa mengubah keseimbangan antara pasokan energi dan sentimen pasar. Ketidakpastian di wilayah strategis seperti Selat Hormuz dapat menimbulkan tekanan pada harga minyak sekaligus menjaga pasar saham tetap rentan terhadap kejutan data ekonomi. Kombinasi faktor-faktor ini menambah lapisan kompleksitas bagi investor yang mencoba menilai arah jangka pendek dan menengah.
Secara garis besar, prospek jangka pendek tampak bergantung pada eskalasi konflik, negosiasi, dan status gencatan senjata. Pasar mungkin merespon secara dinamis terhadap berita terbaru yang berhubungan dengan potensi pelonggaran atau pembatasan pasokan. Dengan demikian, investor disarankan mewaspadai pergerakan teknis serta perubahan fundamental yang bisa mengubah irama pasar dalam beberapa hari mendatang.