HSBC Asset Management menyoroti dinamika menarik pada pasar obligasi AS belakangan ini. Data ekonomi yang menunjukkan kekuatan masih menonjol, namun imbal hasil 10-tahun terlihat menurun dan berada di ujung bawah kisaran 12 bulan. Pergerakan tersebut terasa membingungkan bagi banyak pelaku pasar yang sebelumnya mengasosiasikan data kuat dengan tekanan pada obligasi. Menurut bank, gejala ini mencerminkan permintaan perlindungan yang meningkat meski arus pekerjaan tetap solid. Media kami adalah Cetro Trading Insight.
Faktor-faktor seperti tegangan pada perdagangan, tarif, serta belanja modal terkait AI mengubah dinamika risiko dan inflasi. Perubahan tersebut membuat peran Treasuries sebagai alat diversifikasi tidak selalu stabil. Selain itu, dominasi fiskal dan beban utang negara menambah ketidakpastian terhadap kemampuan obligasi untuk mengimbangi gejolak pasar. HSBC menekankan bahwa preferensi untuk aset safe haven berpotensi kembali menggairahkan volatilitas di kelas aset berisiko. Dengan demikian, kilas baliknya adalah bahwa pasar obligasi sedang dipengaruhi oleh kekuatan eksternal yang berbeda dari pola historis.
Namun, catatan utama mereka adalah perlunya diversifikasi yang lebih luas. Meskipun obligasi memberikan perlindungan sementara, korelasi antara saham dan obligasi tidak selalu negatif dalam beberapa skenario. Tariff shocks dan lonjakan belanja modal AI berpotensi memicu inflasi yang tidak diperkirakan, sehingga efek pelindungnya bisa terbatas. Dalam konteks ini investor disarankan untuk tetap menjaga keseimbangan portofolio dengan instrumen non-tradisional. HSBC menyarankan untuk terus memantau dinamika fiskal dan kebijakan perdagangan sebagai pendorong risiko dan peluang baru.
Analisis HSBC menyoroti pembalikan dinamika pada portofolio tradisional 60/40. Setelah periode panjang di mana saham dan obligasi bergerak berlawanan, Treasuries kembali berfungsi sebagai bantalan terhadap kejutan pasar. Investor dapat melihat perbaikan volatilitas dan stabilitas nilai portofolio saat risiko global meningkat. Namun, sifatnya tidak otomatis dan bergantung pada lintasan inflasi serta kebijakan ekonomi. Peran perlindungan ini memberi jeda untuk menimbang peluang investasi lain yang bisa memperkaya diversifikasi.
Yang patut dicermati adalah ketidakpastian korelasi antara kelas aset. Tariff, eskalasi AI capex, dan kebijakan fiskal nasional dapat mengubah hubungan antara saham dan obligasi secara signifikan. Karena itu, diversifikasi tidak lagi tergantung pada satu instrumen saja, melainkan kombinasi aset yang berbeda. Investor disarankan untuk memasukkan aset seperti komoditas lunak, valuta asing, atau real assets jika cocok dengan profil risiko. Poin utamanya adalah menjaga alokasi yang responsif terhadap perubahan iklim ekonomi.
Selain itu terdapat penekanan bahwa dana darurat dan likuiditas tetap penting selama periode volatil. HSBC menekankan bahwa arus utang dan pasokan Treasury yang membesar bisa menambah tekanan pada nilai pasar obligasi. Investor perlu meninjau ulang tingkat risiko yang disesuaikan dengan imbal hasil secara berkala. Kebijakan fiskal yang berubah-ubah menambah beban fiskal dan menantang diversifikasi jangka menengah. Secara keseluruhan, pesan utama adalah perlunya strategi multi aset yang memperhitungkan inflasi, perdagangan, dan kebijakan fiskal.
Di tengah fokus pada keselamatan modal dan perlindungan terhadap volatilitas, laporan menyarankan penguatan landasan analisis makro. Perdagangan jasa teknologi dan peningkatan biaya modal terkait AI meningkatkan tekanan pada harga barang dan jasa secara luas. Skenario defisit fiskal yang membesar menambah beban pada pasar obligasi dan meningkatkan volatilitas imbal hasil. Investor disarankan untuk mengukur sensitivitas portofolio terhadap skenario kebijakan fiskal dan tarif yang berubah-ubah. Penilaian risiko ini menjadi bagian penting dari perencanaan investasi jangka menengah hingga panjang.
Risiko inflasi tetap menjadi faktor utama. Lonjakan belanja modal terkait AI dapat meningkatkan tekanan harga dalam beberapa tahun ke depan jika produktivitas tidak mengikuti. Tarif perdagangan juga berpotensi menjaga harga barang tetap tinggi meskipun data tenaga kerja stabil. HSBC menekankan bahwa masa depan kebijakan fiskal dapat menambah atau mengurangi efek pelindung obligasi, tergantung bagaimana utang dikelola. Investor perlu memantau indikator inflasi inti dan isu fiskal sebagai panduan alokasi aset.
Sebagai strategi, HSBC menyarankan memperluas diversifikasi lintas kelas aset, bukan hanya mengandalkan obligasi. Instrumen pilihan bisa meliputi logam mulia, komoditas tertentu, mata uang hedging, atau ekuitas pasar negara berkembang jika sesuai profil risiko. Penempatan modal perlu disesuaikan dengan kerentanan terhadap perubahan fiskal, teknologi, dan geopolitik. Dengan pendekatan multi aset yang terukur, portofolio bisa lebih tahan terhadap siklus risiko yang berbeda.