
Menurut Cetro Trading Insight, OCBC strategists Sim Moh Siong dan Christopher Wong memangkas proyeksi nilai tukar rupiah meskipun Bank Indonesia menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin. Analisis ini menegaskan bahwa ketidakpastian kebijakan domestik tetap menjadi beban utama bagi IDR. Langkah kebijakan yang tidak konsisten berisiko memperlambat pemulihan rupiah di tengah lingkungan internasional yang dinamis.
Harga minyak yang lebih tinggi meningkatkan biaya impor bagi Indonesia dan mitra dagang utama, menambah tekanan pada IDR ketika arus modal global berputar menuju aset yang lebih aman. Oleh sebab itu, aliran likuiditas menjadi lebih rentan terhadap fluktuasi harga energi dan kebijakan energi nasional.
Risiko geopolitik yang berlanjut serta volatilitas di pasar minyak meningkatkan ketidakpastian investor terhadap mata uang Asia berprofil risiko tinggi. Para pelaku pasar mengkaji bagaimana dinamika geopolitik dapat memicu pergeseran aliran modal dan memicu gerak rupiah secara lebih luas.
Imbal hasil yang lebih tinggi di negara maju membuat yield relatif Asia kurang menarik bagi investor asing, memperburuk tekanan terhadap rupiah dalam jangka menengah. Ketidakpastian global memperbesar risiko penyesuaian besar pada pasangan mata uang Asia, terutama terhadap USD.
Para analis menekankan bahwa pemulihan IDR yang berkelanjutan hanya mungkin terjadi jika sinyal kebijakan domestik lebih jelas dan konsisten. Kepastian arah kebijakan membantu meredam risiko politik dan meningkatkan kepercayaan pasar terhadap rupiah.
Perkembangan kebijakan terhadap ekspor komoditas dapat menjadi letak kunci untuk menenangkan arus modal dan menambah kepercayaan pasar terhadap IDR. Meskipun langkah tersebut berpotensi meningkatkan penerimaan negara, ketidakpastian jangka pendek tetap ada bagi investor asing.
Tanpa penyelesaian risiko minyak, geopolitik, dan dinamika yield global, rupiah kemungkinan masih menghadapi jalur pemulihan yang lambat. Hal ini menegaskan perlunya langkah kebijakan yang lebih konkret dan konsisten untuk mendukung stabilitas nilai tukar ke depan.