IHSG melaju tajam dalam dua arah pergerakan yang memikat pasar, menurut Cetro Trading Insight. Lompatan ini menegaskan adanya minat beli yang kuat meski volatilitas tetap tinggi. Investor domestik dan asing terlihat menimbang peluang di tengah ketidakpastian global.
Secara global, keputusan FTSE Russell untuk mempertahankan Indonesia pada status Secondary Emerging Market memberikan sinyal stabil bagi arus investasi jangka menengah. Di sisi lain, kabar gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran menekan harga minyak dunia, sehingga memperkuat minat beli saham. Berdasarkan data BEI, IHSG ditutup pada 7.207,16, naik 3,39 persen, dan intraday mencapai 7.214,45.
Analisis teknikal menunjukkan ini lebih bersifat rebound dibandingkan perubahan tren utama. Analis dari BRI Danareksa Sekuritas menekankan bahwa IHSG masih berada di dalam pola downtrend meskipun ada perbaikan momentum. Mereka menambahkan bahwa IHSG belum membentuk higher high dan masih di bawah resistance kunci, sehingga pergerakan saat ini perlu konfirmasi lebih lanjut.
Dari sisi teknikal, IHSG menunjukkan pola yang belum selesai: level support kuat berada di kisaran 6.920-7.020, sementara resistance minor sekitar 7.185 dan resistance lanjutan di 7.340. Selama IHSG belum mampu menembus dan bertahan di atas 7.340, pergerakan penguatan cenderung bersifat rebound terbatas. Kondisi ini mendorong investor bersabar sambil menunggu sinyal konfirmasi yang lebih kuat.
Indikator momentum seperti MACD mulai menunjukkan perbaikan, dengan histogram menguat dan memberi peluang untuk rebound lanjutan dalam kerangka jangka pendek. Namun, tren utama masih down, sehingga level 7.340 menjadi kunci untuk konfirmasi perubahan tren ke arah positif.
Dengan pola tersebut, sinyal trading menunggu konfirmasi yang lebih jelas sebelum mengambil posisi. Sinyal trading bergantung pada terkonfirmasinya breakout di atas 7.340 dengan rasio risiko-reward minimal 1:1,5. Investor disarankan memantau pergerakan harga dan level-level kunci untuk menghindari sinyal palsu.