IHSG menguat sekitar 2% pada perdagangan Rabu (8/4/2026), terdorong oleh optimisme pasar setelah FTSE Russell menegaskan Indonesia tetap berada di status Secondary Emerging Market. Kondisi ini menjadi acuan bagi arus modal dan persepsi risiko pelaku pasar terhadap likuiditas bursa domestik. Cetro Trading Insight melihat momentum ini sebagai peluang bagi investor untuk menilai sinyal fundamental jangka menengah mengenai reformasi pasar dan keandalan data publik.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG berada di level 7.138,16 pada pukul 09.50 WIB, setelah sempat menyentuh level tertinggi harian 7.195,19. Secara rinci, 514 saham menguat, 143 saham melemah, dan 301 saham stagnan, menandakan dinamika yang beragam di antara sektor-sektor utama. Kondisi ini mencerminkan adanya gaya beli yang menyasar saham-saham unggulan sambil beberapa emiten berisiko menyesuaikan posisi.
Analisis teknikal menyoroti level krusial di 6.850 sebagai batas penopang. Jika IHSG mampu bertahan di area itu, potensi rebound menuju 7.500 menjadi lebih realistis. Namun risiko koreksi tetap ada bila harga menembus ke bawah 6.000, menandakan potensi perubahan arah dalam tren saat ini. Secara keseluruhan, sinyal tersebut mengindikasikan peluang bagi pelaku pasar untuk memantau reaksi terhadap kebijakan pasar dan pergerakan harga energi global.
FTSE Russell menyampaikan bahwa Indonesia tetap berada dalam kategori Secondary Emerging Market pada tinjauan interim April 2026, sambil mencatat kemajuan reformasi pasar modal yang bertujuan meningkatkan transparansi dan keandalan data bagi investor global. Penilaian ini menunjukkan bahwa perbaikan kerangka regulasi berjalan sesuai ekspektasi meskipun evaluasi penuh masih menunggu hasil implementasi lebih lanjut.
Laporan FTSE menyoroti langkah-langkah reformasi seperti peningkatan keterbukaan kepemilikan saham, perluasan kategori klasifikasi investor, serta penerapan batas minimum free float. Penguatan perangkat pengawasan pasar juga dianggap penting untuk menjaga integritas data dan mencegah distorsi informasi bagi investor asing maupun domestik.
Sejalan dengan itu, OJK, BEI, dan KSEI telah menuntaskan empat agenda reformasi sebagai bagian dari delapan rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal sejak 1 Februari 2026. Progres ini diharapkan memberi bobot lebih pada penilaian MSCI dan mempengaruhi keputusan evaluasi indeks mendatang, termasuk yang dijadwalkan sebelum Juni 2026, sehingga para pelaku pasar memiliki gambaran lebih jelas mengenai prospek masuknya aliran modal baru.
Di kancah global, suasana pasar menunjukkan optimisme yang lebih luas setelah kabar gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran, yang pada akhirnya menekan harga minyak dan meringankan tekanan inflasi berbasis komoditas. Sentimen risk-on ini mendukung pergerakan indeks regional dan meningkatkan optimisme terhadap pemulihan ekonomi yang bergantung pada arus perdagangan energi.
Di bursa Asia, beberapa indeks utama mencatat reli signifikan: Nikkei Jepang naik 5,04%, Kospi Korea Selatan 5,97%, S&P/ASX 200 Australia 2,58%, Shanghai Composite 1,76%, Hang Seng Hong Kong 2,61%, dan STI Singapura 0,59%. Penguatan ini mencerminkan respons investor terhadap stabilitas geopolitik dan dorongan likuiditas global yang lebih kuat.
Harga minyak yang turun tajam turut meredakan kekhawatiran terkait tekanan biaya impor dan inflasi di wilayah Asia-Pasifik. Meski demikian, para analis menekankan bahwa volatilitas harga energi tetap menjadi faktor risiko bagi pertumbuhan negara berkembang, sehingga keseimbangan kebijakan fiskal dan moneter perlu terus dipantau.