IHSG memburu rebound di tengah volatilitas pasar yang tinggi. Pada Selasa, 10 Maret 2026, indeks utama tersebut berhasil menguat sekitar 2,03 persen ke level 7.486,09, setelah sebelumnya turun tajam akibat gejolak geopolitik dan dinamika domestik.
Nilai transaksi tercatat sebesar Rp3,52 triliun dengan volume perdagangan sekitar 6,08 miliar saham, menunjukkan aktivitas belian yang cukup solid meskipun pasar masih bergejolak.
Sejumlah 532 saham menguat, 127 melemah, dan 299 saham bergerak stagnan, menunjukkan pergeseran sentimen yang tidak seragam di sepanjang papan perdagangan.
Secara teknikal, IHSG diyakini masih berada dalam pola bearish pennant yang menandakan potensi tekanan lebih lanjut ke bawah jika support teruji.
Support utama yang terbentuk pada 2025 di kisaran 7.250 menjadi level penting yang akan menjadi penentu arah pergerakan berikutnya, meskipun penguatan terbaru belum didukung katalis kuat.
Target penurunan IHSG masih berpeluang tercapai di kisaran 7.000 hingga 6.850, dan jika level itu tercapai, terdapat peluang untuk rebound berikutnya tergantung pada faktor katalis baru yang muncul.
Secara global, sentimen membaik dengan kenaikan Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang sekitar 2,6 persen meski konflik berlanjut di beberapa wilayah, dan minyak Brent sempat turun hingga mendekati USD90 per barel.
Harga minyak berbalik turun setelah pernyataan dari pejabat AS menambah optimisme, meski investor tetap mencermati dinamika di Iran dan pengaruhnya terhadap pasokan energi.
Di kancah regional, meskipun sentimen membaik, volatilitas tetap tinggi; dalam jangka panjang, investor disarankan menjalankan rencana yang terukur dengan fokus pada manajemen risiko dan perspektif fiskal yang lebih luas.