Gelombang volatilitas melanda pasar saham global dan IHSG setelah serangan militer AS-Israel terhadap Iran serta kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Khamenei pada 28 Februari 2026. Pasar menilai risiko eskalasi regional bisa memperpanjang fase ketidakpastian dan mendorong investor ke posisi defensif. Cetro Trading Insight menilai dinamika ini menambah tekanan pada aset berisiko sembari mencari peluang di sektor dengan fundamental kuat.
IHSG melemah 0,96% ke level 7.939,77 pada Selasa 3 Maret 2026, setelah penurunan 2,65% pada hari sebelumnya. Penurunan berturut-turut ini mencerminkan pergolakan sentimen risk-off di pasar regional maupun global. Analis menilai respons kebijakan dan volatilitas harga energi akan menjadi fokus utama dalam beberapa sesi ke depan.
Riset dari Reuters dan MNC Sekuritas menyoroti potensi volatilitas jangka pendek di pasar domestik jika konflik berlanjut. Eskalasi geopolitik meningkatkan kekhawatiran terhadap lonjakan harga minyak dan aliran modal keluar. Risiko terhadap rupiah serta inflasi bisa membebani valuasi saham, meskipun beberapa sektor tetap berpeluang manage risiko dan memberi perlindungan nilai.
Sektor energi dan hulu migas diperkirakan mendapat manfaat dari lonjakan harga minyak dan ketidakpastian pasokan. Emiten seperti MEDC Medco Energi Internasional, ELSA Elnusa, dan ENRG Energi Mega Persada bisa melihat arus modal masuk yang lebih positif meski pasar umum sedang goyah.
Logam mulia juga dipandang defensif saat risiko geopolitik meningkat. Emiten ANTM Anta Tambang, MDKA Merdeka Copper Gold, BRMS Bumi Resources Minerals, dan HRTA Hartadinata Abadi menjadi fokus sebagai perlindungan nilai bagi investor yang ingin mengurangi volatilitas portofolio.
Sektor pelayaran dan logistik, termasuk BULL Buana Lintas Lautan, SOCI Soechi Lines, GTSI GTS Internasional, dan SMDR Samudera Indonesia, berpotensi terdorong naik akibat kenaikan freight rate. Selain itu, pertambangan batu bara ITMG dan ADRO juga dilihat sebagai lindung nilai terhadap dinamika energi global.
Saham perbankan besar seperti BBCA dan BMRI rentan tertekan bila arus modal asing menurun dan volatilitas meningkat. Penempatan modal asing cenderung berhati-hati pada aset berisiko tinggi ketika sentimen global memburuk. Investor domestik perlu menilai preferensi risiko mereka sambil mengamati dinamika suku bunga dan nilai tukar.
Kenaikan harga energi dan tekanan inflasi dapat menguji daya beli konsumen serta likuiditas pasar domestik. Daya beli yang melemah dan biaya impor yang membengkak berpotensi memperlambat pertumbuhan laba emiten konsumsi domestik. Pasar juga menyoroti risiko volatilitas rupiah yang berdampak pada valuasi saham lintas sektor.
Strategi investasi yang direkomendasikan termasuk diversifikasi ke sektor defensif, pemantauan kebijakan fiskal dan harga energi, serta penekanan pada manajemen risiko. Hasilnya, investor dapat menilai peluang di sektor energi, logam mulia, dan transportasi sebagai bagian dari portofolio pelindung nilai. Penting untuk mengikuti sinyal dan horizon waktu investasi, serta menimbang kondisi geopolitik yang berubah secara cepat.