
Pembukaan IHSG Jumat ini dibuka melemah tajam, mencerminkan gelombang ketidakpastian global akibat lonjakan harga minyak dan eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Pelaku pasar menimbang dampak dini geopolitik terhadap inflasi dan ketersediaan energi. Menurut Cetro Trading Insight, dinamika ini menandai periode volatilitas tinggi yang bisa menentukan arah jangka pendek.
Berdasarkan data BEI hingga pukul 09.28 WIB, IHSG turun 2,02% ke level 6.187,76. Nilai transaksi tercatat Rp4,38 triliun dengan volume perdagangan 9,79 miliar saham. Sebanyak 555 saham melemah, 99 saham menguat, dan 311 saham bergerak stagnan.
Tekanan terhadap IHSG datang dari saham-saham berkapitalisasi besar, dengan Barito Renewables Energy Tbk (BREN) turun 6,04% menjadi Rp3.420 per saham, BRPT turun 4,47%, dan TPIA turun 4,15%. Sementara itu, AMMN turun 3,79% dan BMRI terpaut turun 3,88%, menunjukkan beban pada indeks secara luas.
Sektor perbankan berkapitalisasi besar turut terdampak, dengan saham BMRI turun sekitar 3,88%. Penurunan ini memperberat sentimen pasar yang sudah rapuh akibat faktor geopolitik dan volatilitas harga komoditas. Investor juga menimbang dinamika kebijakan moneter dan proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global.
Analyst BRi Danareksa Sekuritas menyoroti meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah setelah serangan terhadap kapal tanker Saudi di Laut Merah, sementara Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan tanda menuju meja perundingan. Ketidakpastian ini memperdalam kekhawatiran terkait pasokan energi dan implikasi inflasi global yang bisa mempengaruhi pasar modal Indonesia.
Di sisi minyak, Brent melonjak lebih dari 6% mendekati 100 USD per barel, memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi dan potensi tekanan biaya hidup. Dalam konteks domestik, fokus investor beralih ke rilis laporan keuangan emiten semester I-2026 sebagai katalis utama dalam beberapa minggu ke depan.
Secara teknikal, IHSG disebut berada dalam rentang antara support 6.200 dan resistance 6.400, dengan potensi peluang melanjutkan tren penguatan jika mampu bertahan di atas area support. Namun, volatilitas tetap tinggi karena ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga minyak dunia yang berpengaruh pada sentimen investor. Cetro Trading Insight menekankan pentingnya konfirmasi breakout di level kunci untuk menjaga arah pergerakan jangka pendek.
Sentimen regional juga menyelimuti bursa Asia, dengan MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun sekitar 1%, Nikkei 225 turun 2,9%, dan KOSPI Korea Selatan jatuh 3,7%. Pergerakan regional ini menambah tekanan terhadap IHSG karena arus modal cenderung mengikuti tren regional pada periode volatilitas tinggi.
Di dalam negeri, perhatian investor menumpuk pada potensi katalis dari laporan keuangan semester I-2026 dan data ekonomi lain yang dirilis dalam beberapa minggu ke depan. Risiko downside tetap ada jika IHSG menembus level support utama, sementara peluang rebound bisa muncul bila harga berhasil bertahan di atas 6.200 dan kembali menembus 6.400 dengan momentum yang kuat.