IHSG Terus Koreksi Dipicu Tekanan Asing, Inflasi, dan Harga Minyak Menguat

IHSG Terus Koreksi Dipicu Tekanan Asing, Inflasi, dan Harga Minyak Menguat

trading sekarang

IHSG kembali berada di ujung ujian besar. Pasar saham domestik sedang menghadapi tekanan berlapis, mulai dari arus asing yang bergejolak hingga kekhawatiran soal laju inflasi domestik. Investor menimbang arah pergerakan dengan cermat, mencoba membedakan antara peluang teknikal dan risiko fundamental. Situasi ini menuntut kehati-hatian sambil mencari sinyal pemulihan yang kuat.

Analis Ajaib Sekuritas menyampaikan bahwa IHSG berpotensi bergerak dalam rentang 7.900 hingga 8.050. Pandangan tersebut mencerminkan kenyataan bahwa momentum belum cukup kuat untuk perubahan tren yang signifikan. Faktor penentu utama adalah dinamika aliran modal dan ketidakpastian eksternal yang tetap membayangi sentimen investor.

Sebagai konteks teknikal, IHSG mengalami koreksi tajam di sesi sebelumnya sekitar 2,65 persen ke level 8.016. Arus keluar dana asing mencapai Rp631 miliar, menambah beban pada keseluruhan pasar ekuitas. Meski ada peluang rebound di sektor tertentu, koreksi ini menegaskan bahwa tekanan eksternal masih relevan bagi pergerakan IHSG secara keseluruhan.

Di dalam negeri, tekanan terhadap IHSG juga datang dari volatilitas rupiah. Kurs referensi JISDOR terpantau melemah ke level Rp16.848 per dolar AS pada 2 Maret 2026, seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Kondisi ini menambah beban biaya impor dan berpotensi mempengaruhi laba beberapa emiten yang tergantung pada mata uang asing.

Data inflasi Februari 2026 menunjukkan peningkatan menjadi 4,76 persen secara tahunan, lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya yang berada di 3,55 persen yoy. Angka tersebut berada di luar target Bank Indonesia dan dapat membatasi ruang kebijakan moneter maupun kecepatan pemulihan pasar saham. Efek basis rendah dari program diskron listrik juga disebut menjadi faktor yang menekan laju inflasi di periode tersebut.

Di sisi energi, lonjakan harga minyak mentah WTI sebesar 6,28 persen ke level USD71,23 per barel menjadi katalis penting. Kenaikan tersebut berpotensi menekan mata uang negara berkembang dan meningkatkan tekanan inflasi domestik. Secara keseluruhan, faktor energi memberi arah yang berbeda bagi saham-saham berorientasi komoditas di pasar dalam negeri.

Katalis Eksternal: Pasar Global dan Sinyal Sektoral

Dari sisi eksternal, pergerakan Wall Street terkesan terbatas meski ada dorongan positif. Nasdaq menguat 0,36 persen, sedangkan Dow Jones terkoreksi tipis 0,15 persen pada 2 Maret 2026. Sentimen global yang campur aduk menambah volatilitas bagi investor Indonesia yang tengah menimbang arah investasi jangka pendek.

Investor cenderung melakukan aksi buy on weakness pada sektor teknologi, energi, dan pertahanan ketika harga turun. Namun arus modal yang fluktuatif menambah volatilitas, sehingga peluang rebound belum terkonfirmasi secara konsisten. Sentimen di kawasan Asia Pasifik juga menunjukkan dinamika negatif, memaksa pelaku pasar untuk berhati-hati dalam mengambil posisi jangka pendek.

Secara regional, suasana Asia Pasifik cenderung negatif. Nikkei 225 turun sekitar 1,04 persen dan KOSPI melemah sekitar 1,21 persen secara intraday pada perdagangan 3 Maret 2026. Tekanan volatilitas global dan risiko geopolitik menambah tantangan bagi IHSG untuk menguat dalam waktu dekat hingga pasar global menemukan pijakan yang lebih jelas.

Rekomendasi Saham dan Analisis Sinyal

Meski ada rekomendasi Buy pada saham seperti RAJA, PSAB, dan SRTG dari analis Ajaib Sekuritas, penting dicatat bahwa perhitungan risiko–imbalan perlu dicermati. Level pembukaan, target, dan stop loss masing-masing disebutkan dalam riset tersebut, memberikan gambaran potensi pergerakan jangka pendek bagi investor yang mengikuti rekomendasi tersebut.

Rasio reward-to-risk dari rekomendasi tersebut tidak memenuhi standar minimal 1:1,5. RAJA menawarkan potensi reward sekitar 230 poin dengan risiko 400 poin; PSAB menunjukkan tingkat imbalan yang lebih seimbang sekitar 1:1; SRTG memiliki rasio di bawah 1:1,5. Karena itu, tidak ada sinyal trading yang memenuhi kriteria untuk direkomendasikan secara umum di pasar saat ini.

Dalam konteks ini, Cetro Trading Insight menegaskan bahwa status sinyal untuk posisi saat ini adalah no. Investor disarankan menjaga kehati-hatian, melakukan evaluasi ulang terhadap indikator fundamenta dan teknikal, serta memperhatikan volatilitas pasar global sebelum mengambil langkah lebih lanjut. Nama platform kami, Cetro Trading Insight, menekankan pentingnya analisis menyeluruh sebelum mengambil keputusan investasi.

broker terbaik indonesia