Wall Street menguat untuk sesi kedua berturut-turut karena pelaku pasar menilai bahwa gencatan senjata antara AS dan Iran berpotensi bertahan meski ada pelanggaran awal. Sentimen risiko kembali membaik seiring laporan fleksibel mengenai dialog regional. Investor tetap memantau dinamika geopolitik sambil menilai bagaimana data ekonomi utama dapat mempengaruhi kebijakan moneter. Pergerakan ini mencerminkan ketidakpastian yang berkurang di antara para pelaku pasar utama.
Dow Jones Industrial Average naik sekitar 300 poin, dan menutup di atas 48.000 untuk pertama kalinya dalam lebih dari sebulan. S&P 500 dan Nasdaq Composite juga mencatat kenaikan sekitar 0,6-0,7 persen. Pasar menunjukkan daya tahan meskipun ada keraguan mengenai kelanjutan dua minggu gencatan tersebut.
Secara teknikal, indeks menunjukkan dinamika bullish; indeks berhasil memantul dari level rata-rata bergerak 200 hari di sekitar 46.700 dan merebut kembali EMA 50 hari di sekitar 47.550. Stochastic RSI pada chart harian bergerak di atas 60, mengindikasikan momentum naik yang sedang tumbuh. Namun, level resistance utama terletak di sekitar 48.200, zona yang sebelumnya menjadi kendala bagi pergerakan harga.
| Indikator | Level | Pergerakan |
|---|---|---|
| Dow Jones | >48.000 | ≈+300 poin |
| S&P 500 | – | ≈+0.6% |
Kabar positif tentang langkah negosiasi terlihat ketika perdana menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa kabinetnya akan memulai pembicaraan langsung dengan Lebanon. Langkah ini dianggap sebagai potensi de‑eskalasi terhadap ketegangan regional yang sebelumnya menjadi risiko utama bagi stabilitas pasar. Investor menantikan pertemuan tingkat negara di Washington untuk menata disarmament Hezbollah serta hubungan damai antara kedua negara.
Negosiasi ini terjadi setelah percakapan dengan Presiden US dan utusan Gedung Putih yang mendorong pengetatan tindakan militer terhadap Lebanon guna mendukung proses perdamaian yang lebih luas. Iran memperingatkan konsekuensi jika serangan berlanjut, menambah beban risiko pada ketahanan gencatan. Pasar menimbang antara peluang de‑eskalasi dan potensi flare‑up di kawasan.
Pergerakan harga saham secara agregat masuk ke wilayah positif, meski beberapa faktor geopolitik tetap menjadi risiko. Komentar terkait negosiasi menggugah minat terhadap aset berisiko sambil menjaga fokus pada data rilis yang akan datang. Instrumen berisiko seperti indeks utama tetap mendapat tenaga beli di tengah opini bahwa negosiasi dapat menahan gejolak regional.
Harga minyak rebound di atas 98 dolar per barel pada sesi hari Kamis, setelah sebelumnya sempat melewati angka 100 dolar. Brent crude juga menguat sekitar 1 persen ke atas 95 dolar per barel, menandai volatilitas yang tinggi namun arah utama tetap tidak pasti. Pasar minyak mengikuti dinamika geopolitik dengan kepercayaan bahwa pasar akan menyerap gejolak pasokan sambil menimbang dampak pada inflasi.
Situasi di Selat Hormuz tetap rapuh karena sebagian besar kapal kargo tetap tidak bisa melewati jalur tersebut meski adanya kesepakatan. Sekitar 230 kapal yang mengangkut minyak dilaporkan menunggu untuk melewati jalur tersebut. Kepala perusahaan minyak negara UEA menegaskan kapal harus diperbolehkan berlayar tanpa syarat, menambah sentimen positif terhadap keseimbangan pasokan global.
Selain itu, Wakil Presiden JD Vance dijadwalkan memimpin delegasi AS ke Islamabad pada Sabtu untuk mulai putaran pembicaraan langsung dengan Iran. Perkembangan ini menambah konteks geopolitik yang mengurangi ketegangan pasar dan berpotensi mempengaruhi persepsi risiko secara keseluruhan.
Kalender ekonomi Kamis menampilkan data penting: Core Personal Consumption Expenditures Price Index (PCE) bulan Februari sebesar 0,4 persen secara bulanan, sejalan dengan konsensus dan pembacaan sebelumnya. Secara tahunan, core PCE tetap di 3 persen, sesuai ekspektasi. Data ini menjadi sentimen utama karena mempengaruhi ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve.
Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Q4 direvisi lebih rendah menjadi 0,5 persen secara tahunan, turun dari 0,7 persen sebelumnya. Angka ini menambah tanda bahwa ekonomi sudah melambat sebelum eskalasi konflik memanas. Klaim pengangguran awal naik menjadi 219 ribu, melemah dari konsensus 210 ribu, menunjukkan sinyal pelonggaran tenaga kerja yang sedang berlangsung.
Pada sisi konsumsi, pendapatan pribadi turun 0,1 persen MoM meski pengeluaran pribadi naik 0,5 persen. Menambah konteks, risalah FOMC yang dirilis minggu ini mengungkapkan terdapat perdebatan di antara para pembuat kebijakan terkait perlunya kenaikan suku bunga untuk menahan inflasi yang didorong minyak. Beberapa anggota melihat potensi kenaikan namun kelompok lain masih mengharapkan potongan suku bunga tahun ini, sehingga pergeseran ekspektasi suku bunga menjadi nyata.
Dalam aksi saham tunggal, Meta Platforms (META) melonjak lebih dari 3 persen pada hari Kamis, melanjutkan lonjakan 6,5 persen yang terjadi pada sesi sebelumnya. Kenaikan ini menyusul peluncuran Muse Spark, model kecerdasan buatan utama yang dikembangkan di bawah unit Meta Superintelligence Labs. Model tersebut menandai pergeseran dari pendekatan sumber terbuka sebelumnya.
Nama-nama defensif seperti Walmart dan utilitas seperti Constellation Energy juga mengalami pembelian yang mengangkat reli pasar secara keseluruhan. Optimisme yang tersisa dari lonjakan hari sebelumnya mendukung rebound tiga indeks utama AS, dengan Dow mencapai hari terbaik sejak April 2025.
Rangkaian perbaikan ini memperkuat narasi bahwa sentimen pasar tetap didorong oleh harapan bahwa kebijakan segar di sektor teknologi dan stabilitas komoditas akan menyokong pergerakan harga saham secara umum. Investor juga menilai bahwa perbaikan kinerja perusahaan besar dapat menjadi katalis bagi arus dana masuk lebih lanjut.
Output utama pada Jumat adalah laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) bulan Maret yang menjadi fokus utama bagi pasar. Konsensus memperkirakan CPI bulanan sebesar 0,9 persen dan CPI tahunan sekitar 3,3 persen, keduanya meningkat dari angka Februari. Angka ini mencerminkan dampak langsung dari biaya energi yang lebih tinggi terhadap harga konsumen.
Selain itu, survei sentimen konsumen University of Michigan (UoM) untuk April diperkirakan turun menjadi 52 dari 53,3. Hasil ini akan menjadi sinyal awal tentang bagaimana jendela gencatan mempengaruhi kepercayaan rumah tangga. Pasar menilai kedua rilisan data ini untuk menilai kekuatan ekonomi agar bisa memandu langkah kebijakan bank sentral di masa depan.
Secara keseluruhan, para pelaku pasar menantikan rilis CPI untuk menguji apakah arus inflasi akan memaksa langkah kebijakan lebih agresif, atau sebaliknya memberikan ruang bagi pelonggaran lebih lanjut. Pergerakan indeks cenderung tetap sensitif terhadap data data ini, merupakan kunci utama arah pasar beberapa sesi mendatang.