
Di awal kuartal baru, Bursa saham Asia dibuka dengan variasi yang mencerminkan ketidakpastian global. Investor menimbang kemajuan perundingan AS dan Iran serta dampaknya terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz. Ada juga perhatian pada yen yang melemah ke level terendah 40 tahun, sinyal volatilitas mata uang yang bisa mempengaruhi aliran modal. Dalam laporan khusus, tim Cetro Trading Insight menekankan bahwa sentimen pasar saat ini sangat sensitif terhadap data pekerjaan dan komentar kebijakan bank sentral.
Selain itu, imbal hasil obligasi AS mencerminkan tekanan karena memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed. Pasar berjangka menilai peluang kenaikan sekitar sepertiga pada pertemuan bulan ini, dengan peluang September mendekati dua per tiga. Warsh, Ketua The Fed, dikenal enggan memberikan panduan kebijakan ke depan, sehingga pelaku pasar tetap berhati-hati dalam menafsirkan arah kebijakan. Kenaikan imbal hasil juga mendorong arus modal ke sektor teknologi yang menjadi pendorong utama lapangan kerja global.
Riset pasar menunjukkan sentimen teknologi yang tetap kuat meski ada ketidakpastian politik. Indeks Nikkei Jepang menguat sekitar 0,29 persen setelah lonjakannya sepanjang kuartal II 2026, sementara survei kepercayaan produsen Jepang berada di level tertinggi sejak 2018. Aktivitas manufaktur Jepang juga melaju ke kuartal terbaik sejak 2014 berkat lonjakan pesanan baru. Di sektor regional, STI Singapura dan Shanghai Composite juga rebound moderat, meski Korea Selatan tercatat koreksi tipis di tengah dinamika semikonduktor.
Perkiraan kebijakan The Fed menjadi pusat perhatian jelang rilis data pekerjaan penting. Ketua Fed Kevin Warsh dikenal enggan memberikan panduan kebijakan ke depan, membuat pasar tetap hati-hati dalam menginterpretasikan sinyal kenaikan suku bunga. Pasar berjangka memperkirakan peluang kenaikan sekitar 33 persen pada pertemuan bulan ini dan sekitar 70 persen untuk pernyataan pada September, menunjukkan ketidakpastian arah kebijakan. Dalam konteks ini, investor menimbang risiko pengetatan kebijakan yang berdampak pada biaya pinjaman dan valuasi aset berpendapatan tetap.
Imbal hasil surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun melonjak mendekati 4,55 persen, menandakan tekanan naiknya biaya pinjaman dan volatilitas pasar obligasi. Lonjakan imbal hasil dipicu ekspektasi pengetatan moneter serta respons pasar terhadap data tenaga kerja, sehingga investor menimbang imbal hasil yang lebih tinggi terhadap risiko inflasi. Para pelaku pasar mengamati likuiditas dan alokasi portofolio sebagai bagian dari strategi menghadapi ketidakpastian kebijakan.
Musim laporan keuangan mendatang diprediksi menjadi ujian utama bagi laba perusahaan dan arah alokasi portofolio. Analis menilai laba sektor teknologi tetap menjadi motor utama meskipun tingkat imbal hasil yang lebih tinggi dapat menguji daya tarik saham berpendapatan tetap. Bank-bank besar akan memulai musim laporan pertengahan Juli, menambah daftar rilis yang bisa menguatkan atau melemahkan pandangan investor terhadap valuasi dan prospek ekonomi global.
Kinerja sektor teknologi memimpin rebound pasar dengan lonjakan 88 persen pada Philadelphia Semiconductor Index, mencerminkan minat investor terhadap saham teknologi dan semikonduktor. Kuncinya adalah permintaan kuat di segmen AI dan inovasi chip yang berlanjut meski ada kekhawatiran inflasi. Di sisi lain, pasar juga menceritakan kisah menarik mengenai peningkatan kepercayaan terhadap produsen teknologi utama yang mendorong siklus investasi yang lebih luas.
Sentimen positif terhadap teknologi tercermin di Jepang, dengan produsen besar berada pada level kepercayaan tertinggi sejak 2018 menurut survei industri yang dirilis Rabu. Aktivitas manufaktur juga menunjukkan kuartal terbaik sejak 2014 berkat lonjakan pesanan baru, mempertegas pergeseran fokus investor ke sektor teknologi sebagai pendorong utama pertumbuhan. Negara lain di Asia juga melihat dinamika serupa meskipun varians antar negara tetap ada.
Untuk investor, kunci utama tetap laba perusahaan dan kemampuan menjaga pertumbuhan di tengah biaya pinjaman yang lebih tinggi. Alokasi portofolio di sektor teknologi diperkirakan akan tetap kuat jika laba menunjang ekspektasi pasar, meskipun tantangan imbal hasil obligasi dan risiko kebijakan suku bunga perlu diwaspadai secara berkelanjutan.