Di sesi perdagangan tengah hari, indeks utama AS tercatat turun tajam setelah eskalasi di Iran berkembang. Russell 2000 memimpin penurunan dengan melorot sekitar 2,55 persen, diikuti Dow Jones sekitar 1,7 persen, S&P 500 turun 1,62 persen, dan Nasdaq turun 1,72 persen. Sentimen risk-off mendominasi pasar dan investor menimbang dampak konflik terhadap pertumbuhan ekonomi.
Di sisi komoditas, minyak mentah WTI melonjak sekitar 7 persen dan diperdagangkan di atas 76 dolar AS per barel, didorong kekhawatiran penutupan Selat Hormuz. Kenaikan ini juga mendorong harga Brent hingga sekitar 84 dolar per barel. Aksi jual di saham siklis dan sektor perjalanan meningkat karena biaya energi yang lebih tinggi menambah tekanan inflasi.
Indeks volatilitas VIX melonjak di atas 25, menandakan peningkatan ketakutan di pasar. Peningkatan imbal hasil obligasi AS juga menekan harga saham secara luas, dan investor menilai sejauh mana kebijakan moneter akan menyesuaikan diri dengan geopolitik yang tengah berlangsung.
Pergerakan harga saham di sektor ritel dan teknologi konsumen dibatasi oleh arus risk-off yang melanda pasar. Target dan Best Buy melampaui ekspektasi EPS, namun kenaikan harga saham mereka terbatas karena kekhawatiran pasar terhadap ketidakpastian global. Investor menimbang apakah permintaan konsumen akan bertahan saat biaya energi membengkak.
Di sisi energi, harga minyak yang lebih tinggi memberi dukungan bagi perusahaan energi besar sementara maskapai dan industri pariwisata mengalami tekanan akibat biaya operasional yang lebih tinggi. Exxon Mobil dan beberapa nama energi lain menguat, menunjukkan bahwa biaya energi memegang peran utama dalam pergeseran alokasi modal di saat ini.
Selain itu, data ekonomi dan komentar pejabat mencerminkan perubahan persepsi terhadap kebijakan. Beberapa analisis menunjukkan peluang kebijakan Fed lebih terjaga, meski pasar menilai inflasi bisa tetap tinggi lebih lama. Pasar menantikan data Nonfarm Payrolls sebagai momen penentu arah kebijakan berikutnya.
Secara teknikal, tekanan jual terlihat luas dan koreksi indeks utama berlanjut. Investor juga memantau pergerakan logam mulia dan dolar sebagai aset perlindungan risiko, sementara dinamika harga minyak memberikan sinyal kuat tentang prospek inflasi. Kondisi ini mencerminkan preferensi risk-off di kalangan pelaku pasar yang mencari perlindungan jangka pendek.
Yield obligasi jangka panjang turut naik, dengan imbal hasil 10 tahun berada di sekitar 4.1 persen. Hal ini memperkuat pendapat bahwa pasar menimbang jalan kebijakan yang berbeda di hadapan gejolak geopolitik serta potensi perlambatan pertumbuhan. Investor kemungkinan akan menyeimbangkan portofolio antara aset defensif dan siklis sesuai intensitas risiko.
Melihat ke depan, dinamika geopolitik akan menjadi katalis utama untuk pergerakan pasar. Pasar menantikan laporan Nonfarm Payrolls Jumat sebagai data kunci untuk menilai laju inflasi dan arah kebijakan Fed. Analisis ini disajikan oleh Cetro Trading Insight.