Indonet Go Private: Delisting BEI dan Ultimate Beneficial Ownership melalui Stonepeak
PT Indointernet Tbk dikenal sebagai Indonet EDGE resmi mengajukan permohonan penghapusan pencatatan sahamnya di BEI. Langkah ini menandai transisi strategis menuju status perusahaan tertutup alias go private. Perusahaan meluncurkan IPO pada 8 Februari 2021 dan sejak itu saham EDGE terdaftar sebagai emiten terbuka selama hampir lima tahun. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk memandu pembaca memahami implikasi langkah strategis ini.
Hingga 31 Januari 2026 free float EDGE hanya 7,9 persen dari total saham beredar, menunjukkan kendali kuat berada di pihak Digital Edge Hong Kong serta lainnya dengan 92,1 persen. Dalam laporan keuangan Indonet entitas induk terakhir yang menjadi pengendali Digital Edge adalah DEA TopCo Limited Partnership. Namun aturan Ultimate Beneficial Ownership terbaru menetapkan penerima manfaat akhir Indonet adalah Michael Brian Dorrell alias Mike Dorrell.
Mike Dorrell adalah miliarder Australia yang memimpin Stonepeak, perusahaan private equity terkemuka di sektor infrastruktur. Per September 2025 Stonepeak mengelola sekitar 84 miliar dolar AS aset, dengan portofolio mencakup infrastruktur data center energi internet dan fasilitas bandara private jet. Menurut laporan Forbes, Stonepeak menilai peluang infrastruktur dengan IRR sekitar 12 persen, mencerminkan risiko relatif rendah dengan imbal hasil. Dorrell berencana menjadikan Indonet sebagai perusahaan tertutup sebagai bagian dari portofolio Stonepeak dan memuluskan integrasi antargrup serta pengambilan keputusan yang lebih efisien.
Mike Dorrell adalah miliarder Australia yang memimpin Stonepeak, perusahaan private equity yang fokus pada infrastruktur. Stonepeak berinvestasi pada data center, energi, internet, serta logistik infrastruktur lainnya. Rencana go private Indonet menjadi bagian dari strategi portofolio Stonepeak untuk mengoptimalkan sinergi antar perusahaan dalam grup.
Portofolio Stonepeak tidak hanya mencakup data center melainkan juga aset di sektor energi dan infrastruktur transportasi seperti bandara private jet. Strategi investasi Stonepeak menekankan kinerja berkelanjutan dan stabilitas arus kas dengan fokus pada proyek infrastruktur berkontribusi kepada IRR yang relatif konstan. Upaya go private Indonet menjadi bagian dari langkah integrasi yang lebih luas.
Langkah go private diambil untuk memuluskan integrasi antargrup dan mempercepat pengambilan keputusan strategis. Manajemen Indonet menilai bahwa status terbuka membuat proses pengambilan keputusan kurang optimal, sehingga go private dapat meningkatkan efisiensi perusahaan. Dengan delisting sukarela, pemegang saham publik memiliki opsi keluar yang teratur sesuai aqta acara perusahaan.
Langkah go private dapat mempengaruhi likuiditas saham EDGE di BEI dan mengubah dinamika perdagangan saham yang beredar. Pasar modal Indonesia kemungkinan mengalami penyesuaian seiring transisi ini, meski manfaat jangka panjang termasuk penyelarasan strategi Perusahaan dengan tujuan grup dapat meningkat. Indonet berada pada posisi untuk fokus pada tugas inti bisnis meskipun sahamnya tidak lagi terdaftar secara publik.
Proses delisting secara sukarela memberi exit yang adil dan teratur bagi pemegang saham publik, sesuai pernyataan dari Direktur Utama Indonet. Percepatan integrasi antargrup diharapkan mempercepat implementasi rencana strategis serta meningkatkan kohesi operasional. Investor disarankan memantau perkembangan tata kelola, aliran informasi, dan peluang privatisasi di masa depan.
Pembacaan masa depan Indonet tergantung pada bagaimana Stonepeak mengelola portofolio infrastruktur dan bagaimana pasar merespons perubahan kepemilikan. Faktor penting adalah transparansi pelaksanaan go private, serta kemampuan perusahaan untuk menjaga likuiditas internal melalui mekanisme internal yang efektif. Pembaca dari Cetro Trading Insight perlu menilai risiko dan peluang secara cermat sebelum mengambil tindakan.