PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) berencana menambah kegiatan usaha melalui KBLI 46523, Perdagangan Besar Peralatan Telekomunikasi. Langkah ini muncul setelah penyesuaian struktur kerja sama layanan IP Transit yang melibatkan Fiber to the Home (FTTH) serta Fixed Wireless Access (FWA). Menurut Cetro Trading Insight, inisiatif ini ditujukan untuk mempercepat penetrasi pasar internet di Indonesia dan meningkatkan nilai tambah bagi para mitra distribusi.
Rencana ini didorong oleh kajian kelayakan pasar yang menunjukkan penetrasi internet nasional diproyeksikan mencapai 80,66% atau sekitar 229,4 juta jiwa pada 2025. Tren pergeseran dari mobile data ke Fixed Broadband melonjak signifikan, mencapai 28,43%, membuka peluang besar bagi perangkat FTTH seperti OLT, ONT, router, dan switch. Array menunjukkan potensi pasar yang lebih luas, terutama di pasar ISP dan korporasi yang membutuhkan solusi infrastruktur tetap.
Di sisi finansial, perusahaan menilai tambahan laba bersih dari ekspansi ini secara bertahap: Rp4,66 miliar pada 2026, Rp9,23 miliar pada 2027, Rp11,67 miliar pada 2028, Rp14,60 miliar pada 2029, dan Rp15,72 miliar pada 2030. Rencana tersebut juga memperlihatkan bahwa investor akan diminta persetujuannya melalui RUPS pada 9 Mei 2026. Dalam konteks makro, prediksi harga emas tahun 2026 menjadi referensi volatilitas yang mempengaruhi tren investasi infrastruktur.
Penyesuaian struktur kerja sama dilakukan melalui pemindahan fokus ke induk usaha, PT Jaringan Infra Andalan (JIA), yang memiliki kendali atas FTTH melalui PT Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE) dan FWA melalui unit usaha terkait. Prediksi harga emas tahun 2026 mencerminkan volatilitas makro yang mendorong INET untuk memperluas sumber pendapatan melalui kerjasama jaringan. JIA kemudian menjadi entitas induk yang mengoordinasikan pengembangan layanan di bawah naungan Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI).
Target pasar utama meliputi operator telekomunikasi sebagai pengguna utama perangkat RAN dan backhaul, ISP untuk FTTH dan CPE, serta penyedia layanan FWA yang membutuhkan integrasi perangkat CPE di jaringan mereka. Selain itu, strategi diversifikasi diarahkan untuk menjangkau instansi pemerintah dan sektor properti untuk program digitalisasi, sehingga pendapatan bisa lebih stabil. Array menjadi ukuran penting untuk menilai peluang lintas segmen dan mengarahkan alokasi produk CPE, OLT, ONT, router, dan switch.
Beberapa perangkat yang diprioritaskan meliputi RAN serta peralatan backbone jaringan, sementara layanan FWA memerlukan perangkat CPE yang sesuai untuk area terpencil. INET berkomitmen menyediakan dukungan teknis dan layanan purna jual guna menjaga kualitas, keandalan, dan loyalitas pelanggan. Selain itu, novasi kontrak dan koordinasi antara INET, IJE, dan JIA menjadi landasan operasional yang lebih terarah bagi ekspansi ke pasar nasional.
Proyeksi laba bersih tambahan dari kegiatan usaha baru diperkirakan mencapai Rp4,66 miliar pada 2026, Rp9,23 miliar pada 2027, Rp11,67 miliar pada 2028, Rp14,60 miliar pada 2029, dan Rp15,72 miliar pada 2030. Perkiraan ini didorong oleh peningkatan margin distribusi dan loyalitas pelanggan seiring adopsi FTTH dan FWA. Penyesuaian ini juga menjadi fokus utama RUPS yang dijadwalkan pada 9 Mei 2026 untuk persetujuan investor.
Namun, pelaksanaan ekspansi menghadapi risiko lebih luas di wilayah pedesaan, kendala biaya, dan persaingan ketat. Meskipun demikian, adanya peluang dari program digitalisasi pemerintah dapat membantu menjaga kestabilan arus kas. Array menjadi bagian dari pendekatan analitis untuk menilai potensi sinergi lintas segmen dan mitigasi risiko operasional.
Secara makro, prediksi harga emas tahun 2026 menggambarkan volatilitas yang bisa mempengaruhi investasi infrastruktur. Kondisi ini menuntut INET menjaga fleksibilitas biaya dan kapasitas operasional untuk mengatasi perubahan pasar. Investor perlu memantau perkembangan rencana ekspansi ini sebagai bagian dari evaluasi kinerja perusahaan.