Inflasi CPI China Mulai Mengarah Naik Pasca Imlek; PPI Rebound dan Sinyal Reflation

Inflasi CPI China Mulai Mengarah Naik Pasca Imlek; PPI Rebound dan Sinyal Reflation

trading sekarang

Lynn Song, Chief Economist for Greater China, mencatat bahwa inflasi CPI China melambat menjadi sekitar 1.0% secara tahunan setelah perayaan Lunar New Year, sementara PPI berbalik positif untuk pertama kalinya sejak 2022. Dengan demikian, data menunjukkan dinamika harga yang berubah arah menghadapi sisa tahun ini. Analisis ini mencerminkan pandangan para analis mengenai transisi dari tekanan deflasi menuju reflasi bertahap.

Dokumen tinjauannya menyoroti peningkatan biaya energi dan transportasi yang berdampak pada laju inflasi keseluruhan. Peningkatan biaya tersebut menjadi pemicu utama kenaikan harga di berbagai sektor terkait transportasi dan manufaktur. Pergerakan ini menambah bobot pada proyeksi inflasi yang lebih tinggi di masa mendatang.

Secara keseluruhan, faktor-faktor harga yang lebih tinggi berpotensi menggeser ekspektasi inflasi dari tren deflasi bertahap. Meskipun ada risiko reversi, momentum reflasi mulai terlihat jika tekanan energi tetap bertahan.

Subkategori biaya bahan bakar transportasi melonjak 10.0% secara bulanan (MoM) pada Maret, meskipun harga bensin naik lebih moderat dibanding harga minyak mentah di China. Lonjakan ini mendorong laju YoY menjadi 3.4% setelah sebelumnya berada pada -9.7% YoY di dua bulan pertama tahun ini. Angka-angka ini menunjukkan dampak langsung dari dinamika harga energi terhadap biaya produksi dan transportasi.

Kenaikan energi juga berpotensi mengangkat tekanan inflasi lebih lanjut dalam beberapa kuartal mendatang. Pasar yang lebih luas mulai menilai bahwa volatilitas harga energi dapat menahan laju penurunan inflasi jika harga minyak tetap kuat.

Sementara itu, proyeksi harga energi yang lebih tinggi menambah variabel risiko bagi prospek inflasi, terutama jika reformulasi kebijakan energi tidak mengimbangi dampak kenaikan tersebut.

Prospek PPI, Reflation, dan Risiko Kebijakan

Inflasi harga produsen (PPI) akhirnya berbalik positif menjadi 0.5% YoY pada Maret, menandai berakhirnya jeda deflasi selama 41 bulan. Perkembangan ini menambah sinyal bahwa tekanan biaya di tingkat produsen bisa menguat secara bertahap.

Faktor utama yang mendorong pemulihan PPI adalah peningkatan output di sektor pertambangan logam non-ferrous (36.4%) dan proses metalurgi (22.4%), yang terus mendorong PPI lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Dampak harga produsen yang lebih tinggi ini diharapkan meluas ke sektor-sektor lain melalui rantai pasokan.

Kenaikan harga produsen dapat pada akhirnya menciptakan momentum reflasi di seluruh perekonomian, mendesak pemerintah untuk menindak persaingan harga yang terlalu agresif. Meski demikian, ekspektasi deflasi China yang telah lama tertanam berisiko berubah arah secara materi pada tahun ini, tergantung pada dinamika energi dan kebijakan fiskal serta moneter.

Artikel ini disusun oleh Cetro Trading Insight.

broker terbaik indonesia