
Menurut analisis ekonom Société Générale, Sam Cartwright, inflasi headline zona euro melonjak menjadi 3.2% YoY pada Mei, sementara inflasi inti berada di 2.5%. Pendorong utamanya adalah sektor jasa, bukan energi, dan efek kalender libur Paskah turut berperan. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight, menandai bahwa data tersebut berada pada jalur yang sejalan dengan ekspektasi pasar yang menantikan langkah kebijakan pada Juni.
Berdasarkan angka-angka tersebut, dibandingkan dengan proyeksi ECB pada Maret, kedua ukuran inflasi berada pada jalur sedikit lebih tinggi. Hal ini memperkuat ekspektasi untuk kenaikan suku bunga pada Juni serta menandai tantangan bagi kestabilan harga energi ke depan. Pasar juga mencermati bahwa dinamika ini bisa meningkatkan tekanan pada kebijakan moneter di sepanjang trimester kedua tahun ini.
Analisis lanjut menunjukkan bahwa kekuatan sektor jasa dan dinamika harga energi menjadi faktor utama. Headline inflation naik 0.2 ppt menjadi 3.2% YoY, sedangkan inflasi inti melonjak 0.3 ppt menjadi 2.5% YoY, sedikit melampaui perkiraan Bloomberg. Angka-angka ini menegaskan bahwa tekanan inflasi inti masih cukup kuat dan memperkuat narasi pasar untuk jalur kebijakan moneter yang lebih ketat pada bulan Juni.
Secara praktis, dinamika harga energi diperkirakan naik secara marginal dalam beberapa bulan mendatang meskipun rumah tangga memperpanjang kontrak energi dengan tarif lebih tinggi. Penyesuaian harga listrik dan gas di sejumlah negara mendukung pergeseran biaya, sementara volatilitas pasar energi tetap menjadi komponen utama. Laporan ini menekankan bahwa tekanan jasa tetap menjadi kontributor utama terhadap inflasi inti.
Menurut analisis Cetro Trading Insight, kebijakan fiskal yang lebih longgar berpotensi menahan inflasi headline melalui dukungan energi sebesar 0.3% dari PDB, setidaknya pada fase awal. Namun, efek tidak langsung dari dukungan tersebut baru akan terasa seiring waktu melalui rantai pasokan dan harga input. Pasar perlu memantau bagaimana perubahan fiskal ini bekerja bersama dinamika biaya energi dan permintaan domestik.
Faktor domestik juga tetap menjadi pendorong utama. Pelonggaran fiskal Jerman, investasi terkait kecerdasan buatan, pemulihan sektor perumahan, dan aliran dana dari program NGEU memperkuat daya beli dan kemampuan perusahaan untuk menetapkan harga. Dalam konteks itu, prospek inflasi jangka menengah tetap bergantung pada evolusi kebijakan energi dan harga input global.