Analisa menyebut inflasi Februari di Indonesia mencapai 4.76% secara tahunan, melampaui rentang target Bank Indonesia. Angka ini dipicu oleh beberapa faktor, antara lain efek basis dari tarif listrik, peningkatan harga emas, dan lonjakan harga pangan menjelang Ramadan. Menurut Cetro Trading Insight, pergerakan ini mencerminkan dinamika harga yang sedang menyesuaikan diri dengan kebijakan fiskal dan energi.
Secara bulanan CPI naik 0.68% dibanding bulan sebelumnya, setelah mencatat deflasi 0.15% pada bulan sebelumnya. Meskipun langkah kebijakan moneter bisa mendorong inflasi headline untuk sementara, pengaruhnya diperkirakan mereda seiring waktu. Fokus utama tetap pada tekanan dari harga pangan yang mencapai 4.01% secara tahunan pada Februari dan konsisten di atas 3% sejak Juli 2025.
Melihat ke depan, para ekonom memperkirakan inflasi akan normal seiring meredanya base effect. Meskipun headline melampaui target BI, driver utamanya bersifat non-struktural sehingga tidak diharapkan mengubah sikap kebijakan suku bunga secara signifikan. Namun, risiko ke atas tetap ada terkait tekanan pada makanan dan naiknya Brent crude jika keadaan geopolitik memburuk, seperti di Iran dan Timur Tengah.
Base effect diperkirakan mereda seiring berjalannya waktu, sehingga laju inflasi keseluruhan cenderung menurun dari puncaknya. Ini diharapkan berjalan seiring perbaikan pola permintaan domestik dan normalisasi harga energi.
Makanan tetap menjadi faktor utama volatilitas inflasi, dengan laju 4.01% y/y pada Februari dan selalu di atas 3% sejak Juli 2025. Kondisi ini dapat berlanjut jika gangguan pasokan pangan berlanjut atau cuaca ekstrem mempengaruhi produksi.
Selain itu, minyak Brent memberikan risiko tambahan. Dengan proyeksi baru Brent rata-rata sekitar 15% lebih tinggi untuk tiga kuartal ke depan, dikaitkan dengan dampak pass-through sekitar 0.32ppt terhadap inflasi secara keseluruhan. Berdasarkan skenario ini, proyeksi inflasi 2026 diperkirakan 2.8–2.9%, masih dalam target BI meski mendekati sisi atas.