TD Securities memperkirakan inflasi inti AS (PCE inti) akan meningkat 0,30% secara bulanan, sementara angka inflasi headline diprediksi lebih lemah sekitar 0,22%. Proyeksi ini diiringi rebound JOLTS menjadi 6,8 juta, sedikit di atas konsensus. Di tengah kekhawatiran harga minyak yang lebih tinggi, pasar menilai adanya risiko tekanan inflasi yang lebih besar dan mulai menimbang ulang dinamika inflasi serta pertumbuhan ekonomi.
Analisis menunjukkan adanya risiko ke atas terhadap proyeksi inflasi yang mereka targetkan. Pergerakan data tersebut dapat memicu perubahan pada ekspektasi kebijakan moneter dan arah dolar. Di sisi lain, pasar juga menunggu dampak harga minyak terhadap biaya produksi dan harga layanan yang lebih tinggi.
Para analis menekankan bahwa rilis PCE bulan Januari, bersamaan dengan data konsumsi, akan menjadi pendorong utama bagi pergerakan dolar. Pasar menjadwalkan rilis PCE pada hari Jumat, sehingga investor mencoba menilai bagaimana lonjakan harga energi bisa membentuk jalur inflasi. Cetro Trading Insight menegaskan bahwa volatilitas minyak mentah memperburuk ketidakpastian di pasar.
Core PCE yang tetap kuat, bersama data CPI dan PPI, menunjukkan tekanan inflasi inti yang tetap tinggi meski beberapa komponen melemah. Data CPI dan PPI menunjukkan adanya transfer tarif yang berlanjut, disertai inflasi jasa yang kuat pada bulan tersebut. Oil price tetap menjadi variabel kunci yang bisa memperkuat jalur inflasi dan mempengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter.
Perkiraan menunjukkan konsumsi pribadi mungkin melambat menjadi 0,1% mom, dengan penjualan ritel kelompok kontrol naik namun dalam ekuilibrium riil tetap datar. Belanja riil diperkirakan turun 0,1% sementara pendapatan pribadi diperkirakan tumbuh 0,5% berkat pendapatan payroll dan penyesuaian Social Security saat COLA naik. Variabel-variabel ini menambah gambaran bahwa permintaan domestik tetap ada namun melunak secara pola.
JOLTS diperkirakan rebound menjadi 6,8 juta pada Januari, sedikit di atas konsensus 6,75 juta. Pembacaan tingkat perekrutan dan PHK akan menjadi indikator kunci laporan tersebut. Meski ada pelambatan pada beberapa rangkaian indikator, data tenaga kerja tetap menjadi fokus utama karena hubungannya dengan inflasi dan dinamika upah di masa depan.
Secara keseluruhan, data ini bisa memperkuat peluang dolar menguat jika inflasi tetap berada pada jalur yang lebih tinggi dari ekspektasi. Namun risiko harga minyak yang lebih tinggi menambah ketidakpastian arah dolar dan kinerja aset berisiko lainnya. Pasar akan menilai kombinasi antara inflasi, pertumbuhan, dan kebijakan moneter dalam beberapa kuartal mendatang.
Penilaian analis juga menyoroti risiko ke atas terhadap proyeksi di bawah konsensus, yang memberi sinyal kehati-hatian bagi investor. Dalam situasi demikian, perhatian utama adalah pada rilis CPI, PPI, serta data tenaga kerja berikutnya untuk konfirmasi arah dolar. Skenario yang mungkin adalah dolar bergerak defensif sampai data lebih jelas terungkap.
Secara umum, momentum konsumsi rumah tangga dan kekuatan pasar tenaga kerja menjadi penentu utama arah inflasi dan dolar. Pergerakan minyak mentah dan dinamika harga jasa akan membentuk korelasi dolar dengan aset berisiko lainnya. Cetro Trading Insight akan terus memantau perkembangan dan menyediakan analisis lanjutan untuk membantu pembaca memahami potensi peluang trading.