
Angka inflasi AS yang diukur lewat PCE naik menjadi 3,5% pada Maret, meningkat dari 2,8% di Februari menurut BEA. Secara bulanan, indeks PCE juga melonjak sebesar 0,7%. Data tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar yang telah diperkirakan sebelumnya.
Data ini menunjukkan adanya tekanan inflasi yang masih signifikan dan berpotensi menahan langkah kebijakan Fed agar tidak terlalu longgar. PCE inti (tanpa makanan dan energi) mencatat kenaikan 3,2% secara tahunan, melanjutkan tren kenaikan bulan sebelumnya. Banyak analis menilai bahwa arah kebijakan Fed akan tetap berhati-hati mengingat tekanan inti yang masih tinggi.
Secara pasar, reaksi terhadap laporan ini terlihat dalam pergerakan indeks dolar. Indeks DXY pulih sedikit dari level terendah sesi meski masih turun sekitar 0,5% pada hari itu ke level sekitar 98,50. Pergerakan ini mencerminkan evaluasi pelaku pasar terhadap ekspektasi suku bunga dan dinamika likuiditas jangka pendek.
Respons pasar terhadap data ini menunjukkan pergerakan dolar secara umum tetap lemah meskipun beberapa pelaku mencoba mendorongnya lebih tinggi. Indeks dolar terlihat berada pada posisi sekitar 98,5 pada saat berita diturunkan, menyiratkan penurunan sekitar 0,5% sepanjang hari. Perubahan ini mencerminkan evaluasi terhadap arah kebijakan moneter dalam konteks inflasi inti yang tetap tinggi.
Para pelaku pasar mengubah ekspektasi sejalan data terbaru dengan menempatkan peluang peningkatan suku bunga secara bertahap dalam skenario utama. Proyeksi ini menjaga volatilitas jangka pendek dan membantu membentuk rentang perdagangan utama. Secara umum, momentum dolar tetap rentan terhadap perubahan ke depan tergantung pada petunjuk kebijakan Fed berikutnya.
Analisis teknikal menunjukkan kisaran DXY cenderung konsolidasi di sekitar level rendah pasca rilis. Para pedagang perlu memperhatikan dinamika harga pada indeks utama untuk mengidentifikasi arah berikutnya. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight.