
Peneliti Commerzbank, Bernd Weidensteiner dan Christoph Balz, menilai 250 tahun sejarah ekonomi AS untuk menyoroti bagaimana inflasi yang berkepanjangan secara sistematis mengikis nilai dolar. Analisis mereka menunjukkan pola dua arah antara episod inflasi dan periode stabil harga, yang membentuk harapan investor dan kebijakan jangka panjang. Dalam konteks ini, dolar diposisikan bukan hanya sebagai mata uang, melainkan sebagai refleksi dinamika harga yang telah berulang seiring perubahan kebijakan.
Sejarah AS menunjukkan bahwa sebelum abad ke-20, inflasi sering terjadi terkait konflik militer seperti Perang Sipil, namun biasanya diikuti penurunan harga secara berkelanjutan sehingga tingkat harga pada 1900 tidak lebih tinggi daripada 1800. Hal ini menandai era tanpa bank sentral formal hingga pendirian Federal Reserve pada 1912, yang kemudian memberi kerangka institusional bagi stabilitas harga.
Sejak 1930-an, laju harga di AS cenderung meningkat secara bertahap. Pada 2025, indeks harga konsumen (CPI) telah 18 kali lipat dibandingkan level 1925. Meski ada periode inflasi tinggi di luar perang, seperti pada tahun 1970-an dan awal abad ke-2020-an, tren umum menunjukkan tekanan harga yang lebih berkelanjutan dalam beberapa dekade terakhir, meskipun tanpa deflasi yang berarti.
Analisis menyoroti bagaimana rasio utang terhadap PDB tetap rendah sepanjang abad ke-19, dengan pengecualian utang akibat Perang Saudara yang signifikan. Setelah perang, rasio utang terhadap PDB cenderung menurun kembali, mencerminkan kemampuan fiskal untuk menyeimbangkan beban utang dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil.
Depresi Besar dan Perang Dunia II menyebabkan lonjakan sangat tajam dalam utang publik pada abad ke-20. Meskipun demikian, AS mampu menurunkan rasio utang terhadap PDB secara cepat pasca-1945 melalui program fiskal yang tepat sasaran dan pertumbuhan ekonomi yang kuat.
Era setelah 1980 menandai perubahan pola kebijakan fiskal. Reagan era ditandai peningkatan defisit dan akumulasi utang, meskipun upaya konsolidasi fiskal sempat dilakukan pada periode Clinton di 1990-an. Dinamika ini membentuk landasan bagi perlunya keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan disiplin fiskal di masa depan.
Artikel ini menekankan bagaimana inflasi dan tren fiskal memiliki dampak langsung terhadap nilai dolar dan struktur utang sejak era pasca-perang. Kebijakan moneter yang dirumuskan kemudian berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang, dengan fokus pada kredibilitas fiskal.
Sejak 1930-an, harga di AS cenderung meningkat tanpa fase deflasi signifikan, meskipun periode inflasi tinggi muncul pada 1970-an dan awal 2020-an. Dinamika seperti ini menuntut koordinasi kebijakan moneter dan fiskal yang hati-hati untuk menjaga daya saing ekonomi global dan mengelola ekspektasi inflasi pasar.
Analisis ini, disusun dengan bantuan alat kecerdasan buatan dan direview editor, disediakan oleh Cetro Trading Insight sebagai rangkuman bagi pembaca yang ingin memahami hubungan antara inflasi, utang, dan nilai dolar dalam pandangan jangka panjang.