Katalis Politik AS Menggerakkan Pasar Global: Dolar, Forex, dan Komoditas Menanti Arah Pasar

Katalis Politik AS Menggerakkan Pasar Global: Dolar, Forex, dan Komoditas Menanti Arah Pasar

trading sekarang

Pada hari Jumat, 30 Januari, tajuk utama yang berkaitan dengan politik dan geopolitik di AS mendominasi pergerakan pasar. Bloomberg melaporkan bahwa pemerintahan Trump sedang mempersiapkan pencalonan mantan Gubernur Fed Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya, dengan langkah itu berpotensi mengubah arah kebijakan moneter AS. Sementara itu, laporan WSJ menyebut kesepakatan antara Trump dan Demokrat di Senat untuk menghindari penutupan pemerintah menambah kejutan bagi para pelaku pasar. Kombinasi berita ini, dipadukan dengan pergeseran harga akibat pengambilan keuntungan dan sikap Fed yang berhati-hati, memberi sedikit napas bagi dolar AS, meski berada di jalur rebound dari level rendah empat tahun terhadap mata uang utama.

Ruang narasi kebijakan memberikan dinamika pada pasar. Peluang pemilihan Warsh sebagai Ketua Fed berpotensi menambah tekanan terhadap kebijakan bank sentral, terutama jika kandidat dianggap lebih hawkish atau dovish. Sementara itu, ancaman tarif Trump pada pesawat Kanada dan rencana pembicaraan dengan Iran meningkatkan risiko geopolitik yang membuat investor menahan diri. Gedung Putih juga menandatangani perintah yang akan memberlakukan tarif pada negara penyedia minyak ke Kuba; semua faktor ini menambah volatilitas dan menguji konsensus pasar terkait kebijakan moneter global.

Memandang ke depan, fokus beralih pada pengajuan calon Ketua Fed dan data Indeks Harga Produsen (IHP) AS sebagai panduan arah dolar. Pada saat yang sama, data PDB Jerman dan zona euro untuk kuartal keempat 2025 akan menjadi rujukan kunci sebelum keputusan kebijakan lebih lanjut. Para pelaku pasar meningkatkan kehati-hatian menjelang rilis angka-angka tersebut, sambil menilai bagaimana dinamika kebijakan AS bisa menstabilkan atau menambah tekanan pada likuiditas global.

Kondisi dolar secara umum mengalami pemulihan dari level terendah empat tahun terhadap sejumlah mata uang inti, meskipun indeks dolar tetap berada pada jalur penurunan mingguan kedua berturut-turut. Sinyal teknikal di pasar FX mencerminkan pergeseran sentimen di tengah risiko geopolitik dan harapan terkait kebijakan moneter. Para pelaku pasar menimbang arah kebijakan Fed dan data makro yang dapat mendorong kejutan pada likuiditas dolar.

Di pasar utama, AUD/USD tetap berada di zona merah di bawah 0,7000 menjelang kemungkinan kenaikan suku bunga Reserve Bank of Australia (RBA) minggu depan. USD/JPY mendekati 154,00, mencerminkan kelemahan Yen akibat data CPI Tokyo dan berlanjutnya spekulasi mengenai langkah BoJ; sentimen ini menambah tekanan pada pasangan berisiko. EUR/USD berupaya mengembalikan level 1,1900 meskipun tekanan jual tetap dominan menjelang rilis data PDB Jerman dan Zona Euro. GBP/USD juga menguat dalam koreksi, sekitar 1,3750, sejalan dengan perbaikan sebagian di dolar AS.

Secara umum, para trader tetap menunggu konfirmasi arah melalui data mendatang dan pernyataan kebijakan utama. Fokus utama berada pada bagaimana data Jerman dan Zona Euro serta pernyataan Fed akan memicu pergeseran risiko kredit dan likuiditas. Dengan volatilitas yang meningkat, manuver pasar akan bergantung pada konstelasi kebijakan serta sentimen risiko global.

Emas turun hampir 4% dan diperdagangkan mendekati level $5.200 per ounce, setelah sempat menguji batas $5.100 pada sesi Asia. Tekanan terhadap emas muncul ketika dolar AS mencoba pulih dan investor menimbang risiko geopolitik serta ekspektasi kebijakan Fed. Meski demikian, logam kuning sering dianggap pelindung nilai terhadap ketidakpastian, sehingga pergerakan berikutnya tetap menjadi fokus utama para trader.

Minyak mentah WTI melemah dari level tertinggi lima bulan di sekitar $66,25, dan saat ini diperdagangkan sekitar $64. Gerak korektif didorong oleh progres diplomatik terkait Iran serta kekhawatiran terkait permintaan global di tengah ketidakpastian kebijakan. Pasokan dan permintaan global akan tetap menjadi faktor penggerak utama, dengan pernyataan Trump yang membuka peluang dialog memiliki implikasi terhadap sentimen risiko dan harga minyak.

Kondisi makro yang sedang berkembang menambah volatilitas pada pasar komoditas. Investor menilai apakah momentum fiskal dan perdagangan akan memperkuat atau menekan harga emas dan minyak dalam beberapa minggu ke depan. Skenario ini menekankan pentingnya kehati-hatian manajer risiko dan pengelola portofolio dalam menyeimbangkan eksposur ke aset berisiko dan safe-haven.

broker terbaik indonesia