Ketegangan Teluk Hormuz Memicu Tekanan Pasar Asia: Minyak Stabil di Atas 100 dan Yen Dipantau Intervensi

Ketegangan Teluk Hormuz Memicu Tekanan Pasar Asia: Minyak Stabil di Atas 100 dan Yen Dipantau Intervensi

trading sekarang

Di tengah ketegangan yang kembali memanas di Teluk Hormuz, pasar Asia bergerak melemah dan memantapkan kehati-hatian investor. Ketidakpastian politik berimbas luas pada likuiditas regional, meski ada upaya meredakan retorika konflik dan menjaga jalur perdagangan tetap berjalan. Di Cetro Trading Insight, kami menilai fase ini sebagai ujian bagi stabilitas pasar yang sensitif terhadap berita geopolitik.

Indeks saham kawasan Asia-Pasifik di luar Jepang melemah sekitar 0,3 persen, menumpulkan laju beberapa bursa utama. Di Australia, pasar turun sekitar 0,4 persen, Hang Seng Hong Kong turun hampir 0,8 persen, dan Straits Times Singapura terkoreksi sekitar 0,27 persen. Sementara itu, pasar Jepang dan Korea Selatan tidak beroperasi karena libur nasional, menahan pergerakan regional lebih lanjut.

Sentimen global juga tertekan oleh pergerakan kontrak berjangka indeks utama Wall Street. Nasdaq dan S&P 500 masing-masing turun tipis sekitar 0,1 persen, memberi sinyal kehati-hatian investor di tengah ketidakpastian. Di Eropa, futures Euro Stoxx 50 melemah sekitar 0,2 persen, dan FTSE tergelincir mendekati 0,75 persen. Investor juga menimbang dinamika konflik di Timur Tengah yang belum mereda meski ada jeda diplomatik.

Analisa pasar menunjukkan bagaimana sentimen global bisa menekan likuiditas pasar secara keseluruhan. Pergerakan kontrak berjangka utama mencerminkan risiko yang lebih tinggi bagi investor jangka pendek. Fenomena ini sejalan dengan pandangan sejumlah analis mengenai tekanan geopolitik yang terus mengorek kepercayaan pasar.

Menurut laporan Reuters, ketegangan geopolitik meningkat setelah AS dan Iran melancarkan serangan baru di Teluk, menambah risiko gangguan pasokan energi global. Di tengah upaya Washington membuka jalur aman bagi kapal tanker yang sempat terjebak, pasar tetap waspada terhadap eskalasi yang bisa memicu volatilitas lebih lanjut. Para pelaku pasar menilai bahwa jalur perdagangan di Teluk tetap menjadi kunci kestabilan energi dunia.

Analis pasar IG Tony Sycamore menilai harapan awal terhadap inisiatif kemanusiaan Project Freedom tidak berjalan sesuai ekspektasi. Ia menekankan Iran tidak merespons seperti yang diharapkan, menunjukkan kebuntuan masih rapuh dan situasinya bisa berubah dengan cepat. Ketidakpastian geopolitik tetap menjadi faktor penentu arah risiko di perdagangan global.

Dinamika Minyak dan Pasar Mata Uang

Di pasar komoditas, harga minyak mengalami koreksi teknis meskipun kenaikan tajam sebelumnya. Minyak Brent turun sekitar 0,5 persen ke sekitar USD 113,85 per barel, sementara minyak mentah AS (WTI) melemah lebih dalam, sekitar 1,3 persen, ke sekitar USD 105,03 per barel. Meski koreksi, kedua patokan masih bertahan di atas USD 100 per barel karena kekhawatiran gangguan pasokan.

Di sisi mata uang, yen Jepang bergerak stabil di sekitar 157,22 per USD setelah sempat menguat tajam pada sesi sebelumnya. Penguatan itu memicu spekulasi bahwa otoritas Jepang bisa melanjutkan intervensi di pasar valuta asing. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menegaskan pemerintah siap menindak pergerakan spekulatif, terutama jika nilai tukar dolar terhadap yen mendekati level 160.

Ahli Strategi Makro Asia RBC Capital Markets, Abbas Keshvani, menilai intervensi berulang bukan hal baru bagi Jepang. Ia merujuk pada 2022 ketika yen diintervensi tiga kali dalam beberapa pekan untuk menopang mata uang. Dengan latar belakang itu, para analis menilai bahwa pola dukungan yen bisa kembali muncul jika volatilitas meningkat.

banner footer