Ketegangan Timur Tengah Memicu Risk-Off Pasar: Minyak Melaju, ECB Menanti Keputusan

trading sekarang

Kamis ini, pasar keuangan cenderung risk-off karena meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Harga minyak mentah terus bergerak lebih tinggi, mendorong volatilitas di aset berisiko. Faktor geopolitik menjadi pendorong utama pergerakan harga komoditas energi.

Rencana rilis keputusan kebijakan ECB dan data klaim pekerjaan AS menambah dinamika pasar hari ini. Para pelaku pasar menantikan arah kebijakan moneter dan data tenaga kerja AS sebelum pasar Eropa dibuka.

Laporan militer AS menambah ketegangan regional. Iran IRGC mengatakan tanker terbakar di Selat Hormuz sebagai dampak ledakan, sementara Houthis mengklaim serangan terhadap dua tanker minyak Saudi di Laut Merah. WTI berada di atas 88,50 dolar per barel dan Brent melanjutkan reli mendekati 95 dolar per barel; 6 bulan Brent futures menyentuh sekitar 81,74 dolar per barel.

Analisis Deutsche Bank menilai eskalasi wilayah telah menekan pasokan dan mendorong harga minyak lebih tinggi. Brent crude melonjak ke sekitar 94,07 dolar per barel pada penutupan kemarin dan naik lagi menjadi sekitar 95,94 dolar di pembukaan sesi ini. Mereka juga menyoroti bahwa pasar memperhitungkan harga minyak tinggi dalam beberapa bulan ke depan.

Investors juga mencermati risiko pasokan jangka menengah, dengan Brent futures enam bulan mencapai 81,74 dolar per barel, menunjukkan ekspektasi ketatnya pasokan dibanding permintaan. Ketegangan geopolitik menambah kekhawatiran suplai jangka menengah.

Kekhawatiran pasokan meningkat karena Saudi Arabia mengalihkan ekspor minyak ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah, menambah tekanan pada pasar energi yang sedang rapuh. Pasar tampak sensitif terhadap berita geopolitik dan kebijakan produksi negara produsen.

Kebijakan ECB dan dampaknya terhadap aset utama

Analisis Societe Generale memperkirakan ECB akan menahan kebijakan pada pertemuan hari ini, meskipun diskusi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga bisa muncul dalam pembahasan dewan. Mereka menilai pertemuan ini akan lebih sibuk secara diskusi meski keputusan tetap sama.

Tanpa deeskalasi di wilayah Gulf, kenaikan depo rate hingga 2,50 persen pada September bisa jadi tidak terelakkan guna menahan efek sekunder dari gangguan pasokan energi.

Stabilitas dolar dan tekanan inflasi energi tetap menjadi faktor utama yang membentuk prospek kebijakan. Jika pasar energi tetap volatile, ECB kemungkinan menambah tekanan hawkish terhadap suku bunga di sisa tahun ini.

banner footer