Harga emas XAU/USD berada di kisaran stabil di bawah 4700 dolar AS karena ketidakpastian kesepakatan antara AS dan Iran. Pasar berharap kejelasan menjelang tenggat waktu Trump untuk membuka Selat Hormuz dan menyiratkan potensi gangguan pasokan energi.
Menurut Cetro Trading Insight, perkembangan terakhir menunjukkan bahwa Iran menolak proposal gencatan senjata dan mengajukan rencana 10 poin yang mencakup penghentian perang secara permanen dan pelonggaran sanksi. Meski ada pengakuan atas langkah tersebut, para pelaku pasar menilai peluang tercapainya deal belum cukup untuk memperbaiki sentimen safe-haven.
Di sisi lain, dolar AS tetap kuat dan likuiditas global tetap tinggi, sehingga minat masuk ke emas sebagai perlindungan risiko tidak terpicu sebagaimana biasanya saat ketegangan meningkat. Harga minyak yang lebih tinggi juga menambah kekhawatiran inflasi dan menambah tekanan pada prospek pertumbuhan global.
Dari sudut teknis, grafik 4 jam XAU/USD menunjukkan pembentukan pola bearish flag. Tekanan penurunan meningkat ketika harga bergerak menuju batas bawah pola, dengan SMA periode 100 berada di sekitar 4654 sebagai zona resisten utama.
Kenaikan berlanjut berpeluang mencapai area sekitar 4900 hingga 4908 jika harga mampu menembus SMA 200 pada kisaran 4908. Breakout ke atas akan membuka peluang pergerakan menuju level resistance yang lebih tinggi tersebut.
Di sisi bawah, support utama berada di sekitar 4585 dengan potensi turun lebih lanjut ke 4400 dan berlanjut ke 4100 jika tekanan berlanjut. Indikator momentum masih bimbang, RSI berada di sekitar 50 dan MACD masih berada di wilayah negatif, menunjukkan tidak ada bias arah kuat pada saat ini.
Permintaan dari bank sentral menjadi faktor pendukung utama bagi harga emas dalam jangka panjang. Laporan dari Bloomberg menunjukkan China menambah sekitar 160000 troy ounce pada Maret, menandai 17 bulan pembelian berturut-turut.
Selain itu, pembelian bersih oleh bank-bank sentral global mencapai sekitar 25 ton pada dua bulan pertama tahun ini, menurut estimasi World Gold Council. Hal ini menambah dasar yang mendukung posisi emas di tengah volatilitas harga jangka pendek.
Permintaan ritel melalui ETF tetap menunjukkan daya dukung, seiring dengan minat investor institusional. Meski ada volatilitas jangka pendek, gambaran jangka panjang untuk emas tetap meningkat karena adanya pembiayaan fiskal, utang negara, dan diversifikasi portofolio yang dipandang menguntungkan bagi logam mulia.