
Kontrak berjangka saham Amerika Serikat mengalami penurunan pada perdagangan Senin karena para investor bersikap waspada terhadap langkah terbaru Departemen Keuangan AS. Otoritas moneter berencana melipatgandakan pembelian kembali (buyback) utang pemerintah jangka panjang hingga melampaui $4 miliar guna mengintervensi lonjakan yield obligasi yang terus menanjak. Langkah strategis ini diambil oleh Menteri Keuangan Scott Bessent untuk meyakinkan pasar bahwa tingginya imbal hasil saat ini tidak mencerminkan fundamental ekonomi yang sebenarnya.
Di sisi lain, sentimen pasar terus tertekan oleh kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan antara AS dan Iran akan menjaga harga minyak tetap tinggi. Tingginya harga energi berpotensi memicu inflasi yang lebih persisten, sehingga mempersempit ruang bagi Bank Sentral AS untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Selama jam perdagangan Eropa, indeks berjangka Dow Jones tertahan di kisaran 53.350, sementara S&P 500 futures melemah 0,17% ke dekat 7.680 dan Nasdaq 100 futures merosot 0,65% ke sekitar 29.200.
Tim analis Cetro Trading Insight menilai bahwa intervensi pasar obligasi ini menunjukkan kecemasan pemerintah terhadap volatilitas pasar utang. Jika yield obligasi tetap tinggi, biaya pinjaman korporasi akan meningkat dan menekan margin keuntungan sektor teknologi. Hal inilah yang memicu aksi jual jangka pendek pada indeks saham utama Wall Street pada awal pekan ini.
Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Menteri Bessent mengumumkan rencana sanksi ekonomi yang sangat ketat untuk mengisolasi Iran beserta mitra dagangnya. Kebijakan ini mengancam pasokan energi global karena ekspor minyak mentah Iran ke berbagai negara, termasuk pasokan ke pembeli di China, mulai tersendat akibat blokade angkatan laut AS yang terus berlangsung. Gangguan pasokan ini secara langsung memberikan sentimen positif bagi harga minyak mentah dunia.
Pemerintah Tehran sendiri meremehkan ancaman sanksi baru tersebut dan menyatakan bahwa mereka telah terbiasa menghadapi blokade ekonomi selama puluhan tahun. Namun, pelaku pasar tetap khawatir bahwa hambatan distribusi ini akan memicu guncangan pasokan baru di pasar energi. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah ini menjadi salah satu katalis utama yang menahan laju pemulihan pasar saham global.
Menurut analisis Cetro Trading Insight, konflik ini memicu kekhawatiran inflasi gelombang kedua yang dapat memaksa bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Investor disarankan untuk memantau pergerakan harga komoditas energi sebagai indikator awal arah kebijakan suku bunga global berikutnya. Ketidakpastian ini membuat aset berisiko kurang menarik untuk sementara waktu.
Pelemahan pasar awal pekan ini melanjutkan tren koreksi minggu lalu, di mana Dow Jones turun 0,8%, sementara S&P 500 dan Nasdaq masing-masing terpangkas 1,4% dan 2%. Koreksi ini mengakhiri tren kenaikan beruntun selama tiga minggu terakhir setelah yield US Treasury 30-tahun menyentuh level tertinggi dalam hampir dua dekade. Fenomena lonjakan yield ini tidak hanya terjadi di AS, melainkan juga melanda obligasi pemerintah Jerman, Prancis, dan Jepang.
Kini perhatian pasar beralih pada rilis data inflasi personal consumption expenditures (PCE) bulan Juli yang merupakan indikator favorit Federal Reserve dalam mengukur inflasi. Selain itu, pidato Ketua Fed Kevin Warsh di simposium tahunan Jackson Hole akhir pekan ini menjadi fokus krusial bagi pelaku pasar. Investor mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga acuan menjelang pertemuan komite pasar terbuka mendatang.
Ekonom dari Deutsche Bank memproyeksikan bahwa pidato Warsh di Jackson Hole kemungkinan besar akan menyoroti kerangka kebijakan jangka panjang, termasuk dampak perkembangan kecerdasan buatan (AI) terhadap produktivitas ekonomi. Fokus jangka panjang ini mengindikasikan bahwa diskusi mungkin tidak akan terlalu fokus pada keputusan suku bunga jangka pendek, melainkan pada struktur ekonomi baru. Selain sentimen makro, laporan keuangan dari raksasa teknologi seperti Nvidia dan Marvell Technology juga diprediksi akan menjadi penggerak utama volatilitas pasar minggu ini. Gunakan aplikasi analisis terpercaya yang ditayangkan di web Cetro untuk memantau pergerakan pasar secara real-time.