Kepala IEA Fatih Birol menyampaikan pada sesi perdagangan Eropa bahwa krisis pasokan minyak yang sedang berlangsung lebih parah dibandingkan dua krisis minyak pada era 1970-an maupun kejadian terkait Rusia di 2022. Ia menegaskan bahwa sekitar 40 aset energi utama telah rusak di Timur Tengah, meningkatkan ketidakpastian pasokan global. Dampaknya terlihat pada penurunan produksi minyak yang telah mencapai lebih dari 12 juta barel per hari sejak awal krisis.
Kebijakan produksi dari beberapa produsen utama diminta untuk menahan tekanan harga, sementara pasar menghadapi kekurangan jet fuel dan diesel yang berimplikasi pada sektor transportasi. Kondisi ini telah berpotensi mempercepat gangguan pasokan menuju Asia terlebih lagi dan berisiko menular ke Eropa antara April dan Mei. Otoritas juga mempertimbangkan pelepasan cadangan strategis sebagai langkah penyangga untuk menjaga likuiditas pasar.
Para analis menilai adanya opsi intervensi jika diperlukan untuk menstabilkan pasar minyak. Langkah-langkah tersebut mencakup koordinasi lintas negara dan potensi penggunaan cadangan minyak negara untuk menyeimbangkan suplai. Meski dinamika geopolitik tetap tinggi, beberapa pemangku kepentingan menekankan bahwa tindakan respons pasar perlu dijalankan secara hati-hati untuk menghindari volatilitas berlebih.
Harga WTI sempat terpukul ketika berita berkembang, tetapi akhirnya bergerak rebound sekitar setengah dari kerugian awal dan mendekati level 95,50 dolar AS per barel pada saat ini. Pergerakan harga mencerminkan respons para investor terhadap pelaporan kekhawatiran jangka pendek dan potensi langkah kebijakan yang menenangkan pasar. Analisis menunjukkan bahwa volatilitas tetap tinggi seiring aliansi politik global menimbang langkah-langkah lanjutan.
Para pemimpin global menegaskan perlunya solusi jangka panjang untuk pasokan energi melalui diversifikasi sumber dan perlindungan rantai pasokan. Kebijakan energi akan terus dipengaruhi oleh dinamika Timur Tengah, risiko geopolitik, serta keputusan pelepasan cadangan strategis. Investor perlu memantau pernyataan resmi dan analisis pasar yang bisa mengubah arah tren harga minyak dalam beberapa minggu mendatang.
Dalam konteks teknikal versus fundamental, pergerakan harga mencerminkan reaksi terhadap berita geopolitik dan ekspektasi kebijakan. Support dan resistance pada level dekat 92–94 dan 100–102 dolar menjadi fokus trader untuk menentukan arah jangka pendek. Skenario utama tetap mengarah pada peluang jangka menengah dengan kehati-hatian terkait volatilitas.
Menurut kajian fundamental dari pasar energi, kekurangan pasokan bisa memperkuat tren kenaikan bagi minyak mentah jika gangguan berlanjut. Investor disarankan memperhitungkan potensi intervensi pemerintah dan pelepasan cadangan strategis sebagai katalis pergerakan harga. Pasar juga mempertimbangkan faktor musiman dan permintaan konsumen Asia dan Eropa yang bisa menambah tekanan pada harga.
Dari sisi perdagangan, peluang long pada WTI diperkirakan akan berpeluang jika harga mampu menembus resistance kunci dengan volume yang memadai. Manajemen risiko menjadi bagian penting, terutama karena berita geopolitik bisa merubah sentimen secara cepat. Target harga di sekitar 101,50 dolar AS per barel dan level stop di sekitar 92,50 dolar dapat dipertimbangkan sebagai kerangka awal.
Rencana trading perlu mencakup porsi risiko yang terukur, pemantauan berita energi, serta pembaruan level teknikal. Pedagang disarankan untuk meninjau kembali posisi secara berkala dan menyesuaikan exit strategy bila volatilitas meningkat. Dengan pendekatan disiplin, peluang keuntungan dapat dimaksimalkan tanpa mengabaikan potensi risiko.