Lonjakan CPO Melonjak Terkuat dalam 3 Tahun Didukung Rebound Harga Minyak Mentah dan Permintaan Biodiesel

Lonjakan CPO Melonjak Terkuat dalam 3 Tahun Didukung Rebound Harga Minyak Mentah dan Permintaan Biodiesel

trading sekarang

Perdagangan komoditas bergejolak menampilkan lonjakan harga minyak sawit mentah (CPO) sejak Senin, 9 Maret 2026. Lonjakan ini terasa dramatis dan dinilai sebagai respons terhadap reli harga minyak mentah global serta ketatnya pasokan energi. Permintaan biodiesel juga menjadi bagian penting dari dinamika harga CPO.

Harga kontrak berjangka Mei CPO di Bursa Malaysia Derivatives Exchange meningkat signifikan, melonjak 6,78 persen menjadi 4.663 ringgit Malaysia per ton pada jeda perdagangan tengah hari. Searah sebelumnya, kontrak tersebut sempat bergerak lebih tinggi lagi, menyentuh 4.803 ringgit dan menjadi level tertinggi dalam lebih dari satu tahun. Pasar minyak nabati lain juga menunjukkan reli, menambah narasi kekuatan harga CPO.

Keterangan dari Anilkumar Bagani, Kepala Riset Sunvin Group, menjelaskan lonjakan tajam itu dipicu reli luar biasa di harga energi dan minyak nabati pesaing. Ia menyebut aksi hari ini mencapai batas atas untuk kontrak Mei setelah rally di sektor energi. Ulasan Reuters menambah bobot pandangan bahwa faktor geopolitik dan pasokan berperan besar.

Ketika minyak mentah menanjak, minyak sawit cenderung menjadi pilihan utama sebagai bahan baku biodiesel karena biaya relatif kompetitif. Kenaikan harga minyak nabati dan minyak kedelai di pasar global menambah peluang bagi produsen biodiesel untuk menjaga margin. Cetro Trading Insight menilai peluang ini bisa mengangkat permintaan terhadap CPO sebagai feedstock biodiesel.

Minyak kedelai yang paling aktif di Dalian terlihat menguat sekitar 5,83 persen, sementara minyak sawitnya rebound sekitar 7 persen. Di Chicago Board of Trade, minyak kedelai juga meningkat sekitar 4,54 persen, mencerminkan sentimen bullish lintas pasar minyak nabati. Pergerakan harga bersaing menandai bahwa dinamika pangsa pasar minyak nabati global tetap kuat.

Secara umum, pergerakan harga minyak sawit biasanya mengikuti tren minyak nabati pesaing karena persaingan di pangsa pasar minyak nabati global. Faktor-faktor biaya produksi, ketersediaan lahan, dan kebijakan ekspor-impor negara produsen turut membentuk arah CPO. Keberlanjutan lonjakan harga akan membutuhkan pemantauan intensif terhadap produksi minyak nabati global dan perubahan biaya energi.

Nilai tukar ringgit Malaysia melemah 0,61 persen terhadap dolar AS pada sesi tersebut, membuat minyak sawit relatif lebih murah bagi pemegang mata uang asing. Pergerakan mata uang lokal sering memicu efek pada daya tarik belanja internasional atas CPO yang didenominasikan dalam ringgit. Meski demikian, dinamika harga CPO tetap sangat bergantung pada sentimen energi dan pasokan global.

Selain faktor harga, kekhawatiran gangguan pengiriman akibat eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran menambah daya dorong volatilitas pasar. Hambatan logistik dapat menambah biaya transportasi dan memperlambat pasokan, memperkuat argumen untuk memegang CPO sebagai komoditas strategis. Investor juga memperhatikan rencana kebijakan negara-produsen utama minyak nabati yang dapat mengubah lanskap pasokan.

Analisis berpendapat bahwa jika sentimen dipertahankan, CPO bisa melihat stabilitas harga yang lebih tinggi dalam jangka pendek hingga menengah. Namun secara keseluruhan, risiko geopolitik dan volatilitas energi menandai bahwa sinyal trading sebaiknya dihindari untuk saat ini kecuali ada konfirmasi teknikal yang jelas. Laporan ini dari Cetro Trading Insight menekankan perlunya pendekatan fundamental yang hati-hati bagi investor komoditas.

broker terbaik indonesia