
Di awal 2026, Maybank Indonesia menunjukkan dinamika luar biasa meski berada di tengah gejolak geopolitik global. Laba bersih PATAMI kuartal I-2026 mencapai Rp299 miliar, sementara Pendapatan Bunga Bersih NII meningkat dan NIM tetap stabil. Analisis ini disajikan oleh Cetro Trading Insight, platform berita ekonomi milik kami, untuk membantu pembaca memahami fondasi fundamental yang membentuk potensi saham BNII.
Pendapatan Bunga Bersih (NII) tercatat Rp1,81 triliun, naik 2,1% dibanding periode yang sama tahun lalu. Penopang kinerja ialah penurunan beban bunga serta komposisi pendanaan yang membaik, sehingga margin bisnis tetap kokoh. Kinerja ini menunjukkan kemampuan bank mempertahankan profitabilitas inti meski ada tekanan pada pasar keuangan.
Margin bunga bersih (NIM) terjaga di 4,3% secara year-on-year, menandakan stabilitas profitabilitas. Kualitas aset juga membaik, dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) gross 2,3% dan net 1,4% pada Maret 2026 dibandingkan 2,4% gross dan 1,5% net pada Maret 2025. Di balik angka-angka tersebut, manajemen risiko ditekankan untuk menjaga likuiditas dan kualitas pembiayaan.
Kredit non-ritel CFS tumbuh 7,1% YoY menjadi Rp39,89 triliun, didorong oleh segmen komersial (Business Banking) yang naik 15,6% menjadi Rp17,46 triliun dan SME+ yang tumbuh 12,3%. Kredit ritel CFS tumbuh 5,4% menjadi Rp88,33 triliun, sementara kredit segmen SME non-ritel turun 3,0% meski bagian ritel naik. Secara keseluruhan, dinamika portofolio kredit menunjukkan adanya pergeseran preferensi pembiayaan di berbagai segmen.
Total kredit per Maret 2026 mencapai Rp121,99 triliun dan total aset bank Rp192,17 triliun, keduanya menunjukkan stabilitas di tengah volatilitas pasar. Simpanan nasabah meningkat 6,1% menjadi Rp118,35 triliun, dengan giro melampaui pertumbuhan signifikan. Giro tumbuh sekitar 37,5%, sementara tabungan turun 1,9% dan deposito berjangka turun 21,5%, sejalan dengan desain pendanaan bank untuk memperbaiki biaya dana.
Pembiayaan syariah Maybank Indonesia tumbuh 10,4% YoY menjadi Rp32,23 triliun, didorong pembiayaan CFS dan GB syariah. Pembiayaan syariah CFS meningkat 10,4% menjadi Rp23,16 triliun dan pembiayaan GB syariah tumbuh 10,3% menjadi Rp9,07 triliun. Kontribusi syariah terhadap total pembiayaan bank mencapai 30,2%, sementara aset syariah menyumbang 24,5% terhadap total aset (bank-only).
Pertumbuhan pembiayaan syariah non-ritel didorong oleh segmen SME+ dan Retail SME, yang masing-masing tumbuh 39,1% dan 6,0%. Pembiayaan ritel syariah meningkat 12,5% menjadi Rp10,78 triliun, didorong terutama oleh pembiayaan properti yang tumbuh 14,7%. SRIA menjadi inovasi penting untuk partisipasi investor tertentu dan telah mencatat outstanding sebesar Rp500 miliar.
Dari sisi profitabilitas, PPOP Syariah meningkat 20,9% YoY didukung pendapatan operasional lainnya yang naik 18,1% melalui pembiayaan dan transaksi reksa dana, khususnya SWM. Pada kuartal I-2026, PBT Syariah mencapai Rp226 miliar, meningkat 52,1% YoY. Beban pencadangan turun 69,8% YoY karena langkah pre-emptive provisioning, menjaga kualitas aset.