MBMA mencatat laba bersih USD30 juta pada 2025, setara Rp510 miliar (kurs Rp17.000 per USD), meningkat sekitar 30% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja ini terjadi meski harga nikel global mengalami pelemahan, menambah dinamika risiko bagi industri hilir-nikel. Manajemen perusahaan menegaskan fokus pada efisiensi operasional dan diversifikasi portofolio untuk melindungi arus kas. Cetro Trading Insight melihat peningkatan profitabilitas ini mencerminkan kemampuan penyesuaian biaya dan kontribusi segmen yang menghasilkan meskipun volatilitas komoditas tetap ada.
Namun, MBMA mencatat penurunan pendapatan sebesar 22,18% dari USD1,844 miliar menjadi USD1,435 miliar. Penurunan ini terutama dipicu kerugian yang ditanggung anak usaha, seperti Merdeka Industri Anantha (smelter HPAL ESG), serta porsi kerugian PT Merdeka Tsingshan Indonesia dibandingkan dengan aset nikel yang profitable. Secara manajerial, kombinasi antara beban kerugian tersebut dan dinamika pasar memicu pergeseran fokus operasional menuju produksi dan nilai tambah.
Secara operasional, tambang nikel Sulawesi Cahaya Mineral SCM menjadi salah satu motor pertumbuhan dengan peningkatan volume produksi yang signifikan. Produksi bijih saprolit mencapai 7,0 juta wet metric ton, sedangkan limonit mencapai 14,7 juta wmt, menunjukkan diversifikasi sumber bijih. Di sisi hilir, MBMA mencatat produksi Nickel Pig Iron NPI sebesar 73.871 ton dan High-Grade Nickel Matte HGNM sekitar 19.998 ton, menambah aliran pendapatan dari pasar end produk. Progres proyek High Pressure Acid Leach HPAL juga terlihat positif dengan produksi Mixed Hydroxide Precipitate MHP sekitar 25.994 ton.
Operasional tambang nikel Sulawesi Cahaya Mineral SCM menjadi pendorong utama kinerja MBMA, dengan volume produksi yang meningkat signifikan sepanjang tahun. Pencapaian ini mencerminkan kemampuan tim lapangan dalam mengatasi tantangan logistik dan fluktuasi harga. Cetro melihat bahwa peningkatan output SCM meningkatkan skema pendapatan meski faktor eksternal bergejolak.
Secara rinci, produksi bijih saprolit mencapai 7,0 juta wmt dan limonit 14,7 juta wmt, yang menjadi basis untuk pasokan material ke fasilitas hilir. Sektor hilir MBMA juga memperlihatkan hasil dengan produksi NPI 73.871 ton dan HGNM 19.998 ton, menunjukkan kemampuan perusahaan menjual produk bernilai tambah. Pertumbuhan volume ini menjadi sinyal positif tentang pemanfaatan potensi sumber daya alam MBMA, meski pendapatan total turun karena rugi anak usaha.
Selain itu, progres proyek HPAL yang sedang dikembangkan menunjukkan progres positif, dengan MHP sekitar 25.994 ton. Proyek ini diharapkan meningkatkan efisiensi konversi nikel menjadi material kimia, memperkuat rantai pasok baterai dan nilai tambah bagi perusahaan. Analisis kami menyimpulkan bahwa posisi MBMA di segmen HPAL memberi peluang pendapatan non-nikel murni yang berpotensi mengurangi volatilitas harga nikel.
Strategi MBMA ke depan akan mengandalkan pengembangan HPAL dan peningkatan kapasitas produksi NPI/HGNM, untuk meningkatkan nilai tambah di hilir. Perusahaan juga mengeksplorasi sinergi antara produksi bijih, metal, dan produk kimia berkode tinggi untuk mengamankan arus kas jangka panjang. Melalui analisis eksternal, prospek publik MBMA dinilai positif jika proyek HPAL berjalan lancar dan memberikan pendapatan tambahan.
Di tengah dinamika harga nikel global dan volatilitas mata uang, MBMA offering peluang pertumbuhan dari proyek HPAL yang progresif, dengan potensi peningkatan margin di segmen hilir. Tantangan cash flow akibat kerugian anak usaha juga perlu diatasi melalui efisiensi biaya dan restrukturisasi operasional. Investor perlu mempertimbangkan sensitivitas harga nikel terhadap rencana ekspansi kapasitas MBMA.
Bagi investor, MBMA tetap menarik sebagai eksposur ke siklus nikel dan sektor baterai kelas atas, namun risikonya tetap perlu diperhatikan. Keberhasilan penugasan HPAL, serta dampak dari volatilitas harga nikel dan biaya operasional, akan menentukan arah kinerja di 2026. Cetro Trading Insight menyarankan evaluasi berkala terhadap proyeksi keuntungan dan arus kas agar keputusan investasi lebih terukur.