MDKA Bagikan Dividen Pertama Sejak IPO dan Dorong Prospek Emas-Nikel di 2026

MDKA Bagikan Dividen Pertama Sejak IPO dan Dorong Prospek Emas-Nikel di 2026

trading sekarang

MDKA mengumumkan pembagian dividen tunai pertamanya sejak IPO pada 2015, langkah yang dinilai sebagai sinyal positif kepada investor meski perusahaan mengalami tekanan keuangan di 2025. Prospek bisnis yang membaik di sektor emas dan nikel menjadi landasan kebijakan ini. harga saham emas di pasar global menunjukkan ketahanan meski volatilitas tetap ada, memberikan konteks bagi saham MDKA. Array menjadi metafora strategi alokasi modal perseroan untuk mendukung nilai pemegang saham.

Dividen yang ditetapkan mencapai Rp300 miliar, atau sekitar Rp12,28 per saham, dengan total saham tercatat sebesar 24,47 miliar saham setelah dikurangi saham treasuri. Kebijakan ini menyeimbangkan arus kas perusahaan dengan kebutuhan pendanaan pertumbuhan jangka panjang. Dokumen perusahaan menegaskan bahwa pembayaran dividen dilakukan meski MDKA masih mencatat rugi bersih pada 2025, sebesar USD62,0 juta.

Perseroan menegaskan bahwa sebagian saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya akan dimanfaatkan untuk menjaga stabilitas keuangan. Kebijakan tersebut mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek bisnis dan kemampuan untuk mendukung rencana pertumbuhan jangka panjang meskipun volatilitas pasar. Presiden Direktur Albert Saputro menekankan bahwa 2025 adalah tahun penuh tantangan, namun MDKA memasuki 2026 dengan fondasi yang lebih kuat dan disiplin biaya yang lebih baik.

Awal 2026 menunjukkan momentum positif di segmen emas dan nikel. Pada tambang emas Pani melalui EMAS, produksi emas perdana tercapai di Februari 2026 dan penjualan perdana pada Maret 2026, menandai langkah awal menuju target produksi 2026 sebesar 100.000 hingga 115.000 ounces. MBMA juga melaporkan pertumbuhan produksi bijih nikel di Konawe yang kuat, dengan saprolit naik 72% secara tahunan dan limonit meningkat 195% secara tahunan pada kuartal I-2026.

Progres operasional juga didorong oleh efisiensi biaya dan peningkatan produksi MBMA, dengan harga emas tetap kuat, membuat harga saham emas berada pada level yang mendukung arus kas perusahaan. Kondisi ini menggarisbawahi upaya MDKA dalam mengamankan kapasitas produksi sambil menjaga struktur biaya. Array

Target produksi 2026 untuk EMAS tetap di kisaran 100.000–115.000 ounces, didorong oleh integrasi proyek-proyek emas dan nikel, serta upaya peningkatan kapasitas di fasilitas pendukung. Kebijakan ini menunjukkan optimisme manajemen atas prospek bisnis meskipun pasar global masih menghadapi volatilitas makroekonomi.

Efisiensi Biaya dan Prospek 2026

Cash cost tambang emas Tujuh Bukit turun 64% secara kuartalan menjadi USD 685 per ounce, dan margin per ounce naik 130% menjadi USD 4.156 per ounce, didukung oleh harga emas yang kuat dan disiplin biaya operasional. Langkah ini memperkuat daya tahan MDKA dalam menghadapi dinamika harga komoditas serta meningkatkan arus kas operasional.

Di sektor nikel, margin NPI naik 76% secara kuartalan menjadi USD 3.982 per ton, mencerminkan dampak efisiensi operasional dan program optimisasi biaya. Peningkatan margin ini penting untuk menjaga profitabilitas di tengah tantangan biaya dan volatilitas pasar sumber daya alam.

Melihat ke depan, MDKA berfokus pada penguatan nilai jangka panjang melalui dividen, kapasitas produksi, dan investasi pada proyek-proyek emas dan nikel. harga saham emas tetap menjadi faktor utama yang perlu diwaspadai investor. Array

banner footer