Mengapa Emas Turun 12% Meski Dikenal Safe Haven: Analisis ING dan Proyeksi 5.000/oz

Mengapa Emas Turun 12% Meski Dikenal Safe Haven: Analisis ING dan Proyeksi 5.000/oz

trading sekarang

Harga emas telah turun sekitar 12 persen sejak konflik Iran dimulai. Analisis dari seorang strategis komoditas ING menunjukkan bahwa pergerakan ini terjadi meski emas dikenal sebagai aset safe haven. Penurunan dipicu oleh headwinds makro seperti naiknya harga minyak, dolar AS yang lebih kuat, dan imbal hasil riil yang lebih tinggi.

Faktor-faktor ini menutupi daya tarik emas sebagai pelindung nilai saat krisis keuangan atau kejutan pertumbuhan, sehingga sinyal safe haven melemah dalam jangka pendek. Gelombang gangguan pasokan di sektor energi juga memperburuk narasi tersebut karena inflasi tetap tinggi, memperkuat biaya pembiayaan dan menjaga dolar di level kuat. Akibatnya, emas terlihat kurang responsif terhadap risiko kontra-siklus yang biasanya mendorong kenaikan harga.

ING tetap konstruktif terhadap emas dan memproyeksikan harga mencapai 5.000 dolar per ons pada akhir tahun. Proyeksi tersebut didorong oleh permintaan dari bank-bank sentral dan aliran dana ETF yang membaik meskipun volatilitas menyertainya. Dengan dukungan kebijakan moneter global dan likuiditas investor, potensi kenaikan tetap layak dipertahankan meski koreksi jangka pendek berlangsung.

Federal Reserve menahan suku bunga pada rapat April dan nada dari Ketua Powell cenderung berhati-hati. Inflasi telah kembali meningkat sejak perang, sehingga gagasan pemangkasan kebijakan dalam waktu dekat terasa tidak meyakinkan. Ekonom AS yang dikutip ING memperkirakan pelonggaran kebijakan bisa datang di paruh kedua tahun ini, meskipun kejutan pada harga energi bisa menunda langkah tersebut.

Perubahan kebijakan membuat dampak pada emas bergantung pada arah real yields dan pergerakan dolar. Jika imbal hasil riil tetap tinggi atau dolar menguat, emas cenderung menghadapi tekanan turun; sebaliknya, jika inflasi mereda dan real yields turun, daya tarik logam kuning bisa membaik. Pasar juga menilai risiko kebijakan moneter yang lebih longgar dapat menyokong minyak dan mengerek tekanan inflasi menjadi isu penentu harga emas.

Penundaan kejelasan jangka pendek pun diperburuk oleh dinamika geopolitik. Penolakan Trump terhadap proposal damai Iran menambah ketidakpastian jalannya gencatan dan menjaga risiko inflasi tetap tinggi, memperkuat narasi suku bunga yang lebih tinggi untuk lebih lama. Akibatnya, ruang bagi pemotongan suku bunga menjadi lebih sempit dan volatilitas emas berlanjut dalam waktu dekat.

Meski ada koreksi, ING tetap memegang pandangan positif terhadap emas dan melihat peluang jangka menengah yang didukung oleh permintaan bank sentral serta arus ETF yang membaik. Rangka kerja dasar ini memberi konteks bagi pergerakan harga meski faktor geopolitik dan energy shock membatasi kenaikan di jangka pendek. Dalam skenario utama, emas bisa tetap berada pada jalur penawaran daya dukung tersebut.

Katalis pemulihan bisa muncul jika negosiasi damai berlanjut dan harga energi stabil lebih rendah, mengurangi tekanan inflasi. Selain itu, prospek pelonggaran kebijakan moneter bisa membantu menurunkan real yields dan memperkuat daya tarik emas. Namun jika ketidakpastian geopolitik berlanjut, volatilitas dan risiko harga bisa bertahan lebih lama.

Risiko utama adalah potensi gagalnya pembicaraan damai yang menjaga energi tetap tinggi dan membuat bank sentral tetap pada jalur hawkish hingga akhir tahun. Kondisi ini menekan harga emas dan menambah tekanan pada pasar logam mulia, meski permintaan investor dapat menghadirkan dukungan pada momen-momen tertentu. Secara keseluruhan, dinamika ini akan menjadi kunci arah pergerakan harga emas menjelang penutupan tahun.

banner footer