Minyak Brent Revisi Turun Seiring Kemajuan Damai AS-Iran; Bank-Bank Revisi Target Harga 2026–2027

Minyak Brent Revisi Turun Seiring Kemajuan Damai AS-Iran; Bank-Bank Revisi Target Harga 2026–2027

Signal BRENT/USDSELL
Open82.510
TP70.000
SL90.000
trading sekarang

Kabar besar mengguncang pasar minyak: kemajuan negosiasi perdamaian antara AS dan Iran membuka jalan bagi deeskalasi konflik. Seiring itu, analis menimbang dampaknya terhadap pasokan global dan harga minyak. Dalam pelaporan terbaru, Cetro Trading Insight membedah bagaimana langkah geopolitik ini bisa mengubah lanskap pasar komoditas menjelang 2026–2027.

Morgan Stanley kini memperkirakan harga rata-rata Brent sebesar USD90 per barel pada kuartal ketiga 2026 dan USD80 per barel pada kuartal keempat 2026. Angka-angka tersebut menandai revisi turun dari proyeksi sebelumnya untuk kuartal ketiga sebesar USD100. Sementara proyeksi pada kuartal keempat pada dasarnya tidak berubah secara eksplisit dalam rilis terbaru.

Para analis menekankan bahwa meskipun risiko geopolitik tetap ada, kemajuan negosiasi perdamaian dapat menjadi langkah menuju deeskalasi dan peningkatan ekspor minyak melalui Selat Hormuz. Mereka mengharapkan pemulihan arus kapal tanker yang lebih cepat setelah pembukaan kembali koridor pelayaran tersebut.

Di pihak lain, Goldman Sachs memangkas proyeksi harga minyak untuk kuartal keempat menjadi USD80 per barel dari USD90. Selain itu, perkiraan rata-rata harga Brent pada 2027 turun menjadi USD75 dari USD80. Analis bank menilai bahwa arus kapal melalui Selat Hormuz diharapkan pulih sepenuhnya pada akhir Juli.

Sementara Citi lebih pesimis dibandingkan bank lain: proyeksi Brent menjadi USD75 pada kuartal ketiga, lalu USD70 pada kuartal keempat. Untuk 2027, Citi memperkirakan rata-rata USD65 per barel. Penurunan ini menunjukkan tekanan harga berkelanjutan seiring dengan dinamika permintaan dan rencana produksi global.

Harga patokan internasional telah melorot ke level terendah sejak awal Maret setelah kabar kesepakatan perdamaian. Brent turun di bawah USD90 dan diperdagangkan sekitar USD82,51 per barel, sementara WTI berada di sekitar USD80,23 per barel saat laporan ini ditulis.

Rangkaian revisi proyeksi ini menambah dinamika pada pasar energi global, dengan volatilitas yang meningkat seiring perkembangan geopolitik dan jalur perdagangan. Analisa fundamental menunjukkan bahwa risiko penurunan harga lebih dominan dalam jangka pendek hingga menengah, meskipun permintaan tetap menjadi faktor pendukung di beberapa wilayah.

Berdasarkan isi artikel, sinyal perdagangan yang disorot adalah jual pada kontrak Brent dengan pasangan BRENTUSD. Pembukaan posisi di sekitar USD82,51 per barel dapat diikuti dengan target keuntungan di sekitar USD70 dan stop loss di sekitar USD90 untuk menjaga rasio risiko/imbalan minimal 1:1,5. Skenario ini konsisten dengan proyeksi Citi dan bank lain yang memprediksi pelemahan harga lebih lanjut.

Dalam konteks risiko, disarankan para investor untuk memantau berita terkait negosiasi AS-Iran dan pembukaan Selat Hormuz, serta data produksi OPEC. Tim analisis Cetro Trading Insight merekomendasikan manajemen risiko yang prudent dan meninjau ulang konfigurasi posisi secara berkala sesuai volatilitas pasar. Untuk pembaruan terbaru, tetap ikuti channel kami.

banner footer