Minyak Dunia Melonjak di Tengah Ketegangan Timur Tengah: Analisis Dampak Pasokan, Harga, dan Peluang Perdagangan

Minyak Dunia Melonjak di Tengah Ketegangan Timur Tengah: Analisis Dampak Pasokan, Harga, dan Peluang Perdagangan

trading sekarang

Dalam liputan khusus Cetro Trading Insight, dinamika harga minyak dunia menampilkan lonjakan yang mengejutkan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah serta dampak potensial pada jalur pelayaran di Laut Merah. Ketegangan tersebut menambah ketidakpastian pasokan dan mendorong para trader untuk menimbang risiko geopolitik jangka menengah. Harga minyak mentah WTI melonjak sekitar 3,3 persen, ke level 102,88 dolar per barel, menutup tertinggi sejak Juli 2022. Momentum ini menegaskan bahwa pasar minyak sedang memperhitungkan risiko pasokan yang lebih sempit di tengah ketegangan regional.

Pada saat yang sama Brent untuk pengiriman Mei naik tipis 0,2 persen menjadi 112,78 dolar per barel menjelang kedaluwarsa kontrak, sementara kontrak paling aktif untuk Juni menguat 2,6 persen menjadi 108,01 dolar. Pergerakan itu mencerminkan respons pasar terhadap perubahan dinamika pasokan dan harapan permintaan tetap kuat. Analis menilai ritme naik ini bisa berlanjut jika tekanan geopolitik berlanjut dan jalur pasokan utama tetap terganggu.

Secara umum, pergerakan harga minyak menakar arah menuju lonjakan bulanan yang hampir mendekati rekor historis. Investor cenderung mengaitkan momentum dengan potensi gangguan pada Selat Hormuz dan kemungkinan pembukaan jalur perdagangan yang bisa menenangkan pasar. Namun pasar tetap waspada terhadap variabel politik yang bisa menggoyahkan harga dalam hitungan hari.

Analis Mizuho, Robert Yawger, mengemukakan bahwa Presiden AS Donald Trump sempat berupaya menekan harga lebih rendah pada pagi hari melalui unggahan Truth Social, tetapi langkah tersebut belum membuahkan hasil untuk hari kedua berturut-turut. Babak perdebatan politik ini menambah volatilitas jangka pendek di pasar minyak. Trump juga menegaskan kemajuan pembicaraan dengan Iran, meski kembali menegaskan ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Iran jika kesepakatan tidak tercapai.

Menurut Eren Osman, Managing Director Wealth Management Arbuthnot Latham, pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi kunci untuk menenangkan pasar global. Ia menilai tantangan terbesar bagi investor adalah rentang kemungkinan yang sangat luas, meskipun ia tidak memperkirakan konflik berlangsung panjang karena batas toleransi terhadap kerugian pasar oleh pihak terkait. Pernyataan ini menyoroti dinamika risiko geopolitik yang dapat mengubah aliran pasokan minyak.

Analis senior geoeconomics Commonwealth Bank of Australia, Madison Cartwright, menilai kendali Iran atas Selat Hormuz—jalur yang menyalurkan sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia—memberikan negara tersebut potensi insentif rendah untuk mengalah. Karena itu, konflik diperkirakan bertahan setidaknya hingga Juni. Pilar geopolitik ini menambah ketidakpastian bagi produsen dan konsumen, serta menambah tekanan pada harga energi global.

Pengetatan akses di Selat Hormuz telah mendorong lonjakan harga minyak, gas, pupuk, plastik, dan aluminium di rantai pasokan global. Kenaikan tersebut juga memicu eskalasi biaya bagi industri penerbangan dan pelayaran, sementara harga pangan, farmasi, dan produk petrokimia diperkirakan ikut terdampak. Dampak domino ini menambah beban biaya bagi konsumen dan perusahaan di berbagai sektor.

Kepala Ekonom Global JPMorgan Bruce Kasman mengingatkan bahwa jika penutupan Selat Hormuz berlanjut selama satu bulan tambahan, harga minyak dapat mendekati 150 dolar per barel. Ia juga menyoroti potensi keterbatasan pasokan energi bagi sektor industri jika gangguan tetap berlanjut. Analisis ini menekankan pentingnya manajemen risiko bagi perusahaan yang bergantung pada input energi.

Secara praktis, para pelaku pasar dianjurkan untuk terus memantau perkembangan politik, jalur pelayaran, serta negosiasi terkait Iran. Strategi perdagangan sejalan dengan kerangka risiko geopolitik, dengan fokus pada diversifikasi sumber energi dan fleksibilitas rantai pasokan. Platform analisis kami menyarankan pendekatan risiko-terukur untuk menjaga stabilitas portofolio di tengah volatilitas harga minyak.

broker terbaik indonesia