
Harga minyak ditutup di atas level USD100 per barel pada perdagangan Kamis (23/7/2026) untuk pertama kalinya sejak Mei, didorong oleh klaim Houthi menyerang dua kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah. Ketegangan geopolitik terus memperumit pasokan global, menambah risiko bagi konsumen dan produsen energi. Cetro Trading Insight memantau dinamika ini sebagai sinyal utama bagi arah harga minyak ke depan.
Brent berjangka melonjak sekitar 7% menjadi USD100.69 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 6,2% menjadi USD92.19 per barel, menandai penutupan tertinggi sejak Mei. Lonjakan ini mencerminkan semakin kuatnya tekanan pasokan global akibat gangguan dan ketidakpastian jalur perdagangan penting di wilayah tersebut.
Menurut Bob Yawger, Direktur Energy Futures di Mizuho, kemungkinan perang darat yang meningkat serta pembatasan lalu lintas kapal di dua jalur pelayaran utama memperbesar peluang minyak mencapai rekor tertinggi empat tahun di USD126,41 per barel jika konflik berlanjut. Analisis ini menambah bobot pada pandangan bahwa pergerakan harga akan tetap volatil dalam beberapa minggu ke depan.
| Berjangka | Penutupan |
|---|---|
| Brent | $100.69 |
| WTI | $92.19 |
Eskalasi konflik memperparah gangguan pada jalur pelayaran utama, memperdalam kekhawatiran atas pasokan minyak global. Para analis menilai bahwa Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb merupakan bagian penting dari aliran minyak dunia, dengan volume yang diperkirakan setara sekitar seperempat pasokan minyak global melintas melalui kedua jalur tersebut.
Klaim Houthi terkait serangan terhadap dua kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah membuat situasi lebih tidak pasti. Kantor berita resmi Arab Saudi (SPA) mengonfirmasi bahwa salah satu kapal terbakar, meski belum ada klaim bertanggung jawab yang disampaikan secara eksplisit. Ketidakpastian ini menambah tekanan pada pasar yang sudah rentan terhadap gangguan logistik.
Gelber and Associates dalam catatan risetnya menyatakan bahwa eskalasi di Hormuz dan Bab el-Mandeb meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak global dalam jangka pendek. Mereka menekankan pentingnya monitor kapasitas rute logistik dan tindakan pembeli serta produsen energi untuk merespons potensi pola gangguan berkelanjutan.
Pasokan global minyak menunjukkan tanda-tanda menyusut, yang meningkatkan kekhawatiran mengenai ketersediaan pasokan dalam jangka pendek. Kondisi ini memicu volatilitas pasar energi dan menambah tekanan pada harga bagi konsumen di berbagai negara, terutama negara pengimpor minyak besar.
Para analis memperkirakan arah harga akan sangat dipengaruhi perkembangan konflik dan kelanjutan pembatasan jalur perdagangan di wilayah strategis. Harga minyak berpotensi tetap berada di jalur yang mendekati rekor tertinggi empat tahun, dengan faktor geopolitik menjadi pendorong utama pergerakan pasar dalam beberapa bulan mendatang.
Cetro Trading Insight menekankan pentingnya strategi manajemen risiko bagi pelaku pasar energi karena dinamika geopolitik dapat menimbulkan volatilitas ekstrem. Investor disarankan mengawasi pembaruan situasi di wilayah Hormuz dan Bab el-Mandeb, serta potensi eskalasi yang dapat mempengaruhi pasokan global dan harga energi secara keseluruhan.