Dow Jones Industrial Average turun lebih dari 800 poin pada perdagangan Kamis seiring gejolak geopolitik meningkat. Penutupan sesi menunjukkan Dow berada di sekitar 47.885, turun sekitar 1,7 persen, setelah kehilangan sebagian besar kenaikan hari sebelumnya. Indeks luas seperti S&P 500 melemah sekitar 0,8 persen di kisaran 6.810, sementara Nasdaq Composite turun sekitar 0,5 persen ke level sekitar 22.690. Russell 2000 juga terkoreksi lebih dalam, dengan penurunan sekitar 1,65 persen, mencerminkan tekanan melebar pada saham berkapitalisasi kecil.
Faktor utama adalah eskalasi geopolitik. Serangan rudal Iran terhadap kapal tanker memperdalam kekhawatiran gangguan pasokan melalui Selat Hormuz. Kondisi ini menambah volatilitas pada aset berisiko dan memperbesar risiko bagi prospek pertumbuhan global. Investor juga memantau dampak terhadap sektor-sektor defensif yang selama ini menjadi penahan penurunan pasar.
Di sisi kebijakan moneter, riset pasar menunjukkan bahwa peluang pemotongan suku bunga Fed berkurang karena risiko inflasi terkait gejolak energi. Data tenaga kerja dan inflasi harga konsumen yang lebih tinggi dari ekspektasi menambah tekanan terhadap kebijakan bank sentral. Pasar obligasi merespons dengan imbal hasil yang lebih tinggi, menambah tekanan pada valuasi saham secara umum.
Harga minyak mentah menunjukkan respons langsung; WTI melonjak sekitar 6 persen ke atas 79 dolar AS per barel, sedangkan Brent naik mendekati 84 dolar per barel, mencerminkan kekhawatiran pasokan dan permintaan yang bergejolak. Lonjakan tersebut menandai navigasi pasar yang sensitif terhadap risiko geopolitik di wilayah strategis. Pergerakan harga minyak juga memicu penilaian ulang terhadap biaya energi yang dapat berimbas pada inflasi global.
Tanker traffic melalui Selat Hormuz berada di bawah tekanan akibat eskalasi konflik, sebuah jalur pengiriman utama minyak dunia. Jalur ini membawa sekitar seperlima kebutuhan minyak global dan reputasi risiko pasokan meningkat jika situasi memburuk. Beberapa pihak menilai perlunya perlindungan asuransi politik untuk kapal tanker dan potensi dukungan militer jika diperlukan untuk menjaga kelancaran arus perdagangan.
Seiring suhu geopolitik meningkat, pasar juga menilai implikasi terhadap ekspektasi kebijakan moneter. Risiko inflasi energi yang lebih tinggi dapat membatasi ruang bagi pemangkasan suku bunga di masa mendatang. Imbasnya terasa di pasar obligasi melalui volatilitas imbal hasil dan penyesuaian pada valuasi aset berisiko secara luas.
Emas tetap menjadi fokus utama sebagai tempat perlindungan nilai di tengah gejolak global. Logam kuning diperdagangkan sekitar 5.1 ribu dolar per ounce, didorong oleh pembelian institusional, ketidakpastian geopolitik, dan lemahnya dolar AS. Perak juga menguat, naik lebih dari 1 persen, ke sekitar 84,50 dolar per ounce, menambah profil aset defensif di pasar.
Investors juga menilai Bitcoin sebagai alternatif safe haven dalam konteks volatilitas. Bitcoin diperdagangkan di atas 71 ribu dolar, mencerminkan dorongan permintaan terhadap aset non-fiat di tengah ketidakpastian risiko. Di sisi lain, aktivitas investor institusional terus memantapkan posisi pada aset berharga melalui langkah-langkah likuiditas yang lebih agresif.
Berkaitan tenaga kerja, fokus pasar kini menuju laporan Nonfarm Payrolls Februari yang akan dirilis. Para ekonom memperkirakan pertumbuhan pekerjaan sekitar 60 ribu dengan tingkat pengangguran stabil di sekitar 4,3 persen. Angka yang lemah bisa memicu spekulasi pemangkasan Fed lebih lanjut, sementara angka yang lebih kuat dapat memperkuat narasi satu pemotongan suku bunga pada 2026 dan menambah dinamika pada harga aset berisiko.