Menurut analisis dari Cetro Trading Insight, pejabat EU dan GCC menilai kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran bisa memakan waktu hingga enam bulan. Ketegangan ini membuat kontrak minyak mentah kembali bergerak mendekati level US$98 per barel. Penutupan harian Selat Hormuz menambah beban bagi ekonomi GCC sembari Eropa menyusun rencana pascakonflik untuk menjaga kelancaran pengiriman, termasuk kebijakan pembebasan jalur.
Diskusi seputar uranian enrichment dan kemampuan nuklir tetap menjadi topik utama negosiasi. Para analis melihat perbedaan pendapat mengenai progres program nuklir mempengaruhi kecepatan tercapainya kesepakatan. Pasar merespon dengan volatilitas yang lebih tinggi karena risiko pasokan yang belum jelas.
Di sisi lain, upaya Eropa untuk membebaskan jalur Hormuz secara bertahap juga menambah dinamika geopolitik. Rencana tersebut menunggu hentinya pertempuran sebelum diimplementasikan, sehingga tidak langsung menyelesaikan masalah biaya angkut saat ini. Bloomberg juga menyoroti bahwa argumen antara penyewa kapal dan pemilik kapal masih menjaga premi risiko yang signifikan di pasar kapal.
Setiap hari Selat Hormuz tetap tertutup menambah beban bagi ekonomi GCC dan mendorong biaya operasional pengiriman minyak. Layanan kapal menghadapi biaya sewa yang tinggi dengan premi risiko sekitar 475.000 dolar per hari, sehingga tekanan harga mentah semakin terasa. Pergerakan harga cenderung sideways namun tetap mencerminkan risiko geopolitik yang berkelanjutan.
Rencana Eropa untuk membebaskan Hormuz hanya setelah hostilities mereda menunjukkan fokus pada solusi jangka panjang, tetapi tidak mengatasi gangguan dekat bagi rantai pasokan. Macron menyoroti adanya pihak belligerent sebagai faktor utama, menambah ketidakpastian pasar. Pelaku pasar perlu membangun skenario risiko yang lebih luas dalam menilai arah harga minyak.
Secara keseluruhan, laporan menunjukkan masalah transportasi minyak di wilayah Teluk Persia masih signifikan. Skenario pembatasan pasokan dapat menjaga harga tetap tinggi jika konflik berlanjut. Namun upaya mitigasi melalui rencana lintas wilayah juga memberikan sinyal bahwa volatilitas bisa bertahan dalam beberapa bulan mendatang.