Minyak Mentah Rebound Didukung Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz

trading sekarang

Harga minyak Brent dan WTI rebound pada sesi awal hari Jumat setelah tiga hari penurunan akibat meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran di Selat Hormuz. Pasar menilai risiko geopolitik menambah premi asuransi bagi pasokan minyak global. Para analis memperkirakan dinamika ini akan terus menjaga volatilitas harga dalam beberapa sesi mendatang.

Brent naik sekitar 3 persen mendekati level 103 dolar AS per barel, sementara WTI juga menunjukkan pergerakan positif meski data aliran perdagangan global masih dibayangi konflik. Rebound ini terjadi setelah proyeksi serangan balasan AS terhadap target militer Iran, yang muncul setelah Iran menembaki tiga kapal perusak Angkatan Laut AS di jalur sempit Hormuz. Kedua faktor tersebut memperkuat narasi bahwa pasar mengaitkan harga minyak dengan risiko geopolitik.

Para analis dari ICE dan laporan pasar menekankan bahwa aliran melalui Hormuz tetap terbatas sehingga harga minyak tetap sensitif terhadap berita geopolitik. Mereka menekankan bahwa lonjakan risiko akan bertahan jika jeda diplomatik berlanjut dan aliran minyak ke pasar global belum pulih secara signifikan. Situasi ini menekankan perlunya pelaku pasar memonitor pembaruan diplomatik secara berkala.

Data inventaris minyak di Singapura menunjukkan penurunan sebesar 1,1 juta barel menjadi 44,8 juta barel, tingkat terendah sejak Juli 2025. Penurunan ini didorong oleh penurunan stok distilat menengah dan distilat ringan, meskipun stok residu meningkat sedikit. Pembaruan data mingguan ini memberi gambaran dinamika permintaan regional dan dampaknya terhadap harga jangka pendek.

Penurunan pasokan distilat menengah sebesar 0,8 juta barel dan distilat ringan sebesar 0,6 juta barel menambah tekanan pada pasokan jangka pendek. Di sisi lain, stok residu bahan bakar meningkat sekitar 387 ribu barel menjadi 19,9 juta barel, menambah nuansa campuran pada gambaran permintaan-global. Perubahan komposisi stok menunjukkan respons pasar terhadap perubahan pola konsumsi industri di kawasan Asia.

Rilis data tersebut menegaskan bahwa pasokan dari wilayah Timur Tengah masih belum normal akibat pertikaian regional. Meski ada peningkatan risiko geopolitik, pasar masih menilai terkait dengan tingkat permintaan di pasar Asia sebagai faktor utama penentu harga jangka pendek. Analisis menunjukkan bahwa fluktuasi harga kemungkinan tetap didorong oleh dinamika geopolitik serta data ekonomi regional.

Walaupun ketegangan meningkat, Amerika Serikat terlihat belum berniat mengintensifkan konflik secara langsung. Negara tersebut masih menunggu respons Iran terhadap proposal untuk membuka kembali jalur perdagangan. Hal ini menandai dinamika diplomatik yang masih berkembang.

Kondisi ini memperkuat premis bahwa harga minyak sangat sensitif terhadap berita utama. Pergerakan harga cenderung menghadapi kejutan dari perkembangan diplomatik. Pasar juga menilai bahwa proyeksi permintaan global dapat memainkan peran penting dalam arah pasar jangka pendek.

Ke depan, analis menilai bahwa volatilitas tetap tinggi dengan sentimen risiko yang dekat dengan risiko geopolitik. Investor disarankan memperhatikan rilis berita, data permintaan global, serta perkembangan kebijakan negara produsen dalam menjaga posisi risk management yang tepat. Penyusunan rencana trading sekarang menjadi kunci bagi pelaku pasar untuk mengurangi eksposur terhadap volatilitas.

banner footer